Pemerintah Bidik Bauran Energi Bersih Capai 21 Persen pada Tahun 2026
ยทwaktu baca 3 menit

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam energi primer nasional bisa mencapai 17-21 persen hingga akhir tahun 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan hingga kuartal I 2026, realisasi bauran EBT sudah mencapai 18,3 persen, naik signifikan dari posisi akhir 2025 yang sebesar 15,75 persen.
Rinciannya yakni PLTA 3,59 persen, PLTBio 3,27 persen, PLTP 1,91 persen, PLTS 0,51 persen, PLTB 0,06 persen, dan lainnya 0,41 persen. Sementara untuk non-listrik yakni FAME 5,38 persen, biomassa 2,91 persen, dan lainnya 0,26 persen.
"Untuk menghadapi tantangan kondisi geopolitik global, kami menargetkan untuk 2026 ini capaian EBT adalah 17 sampai dengan 21 persen. Jadi pada saat triwulan I kita sudah mencapai 18,3 persen ingin kita naikkan lebih agresif lagi," ungkap Eniya saat rapat Komisi XII DPR, Kamis (4/6).
Adapun bauran EBT khusus listrik yang dicapai PT PLN (Persero) mencapai 15,15 persen, bauran IUPTLS sebesar 28,31 persen, dan wilayah usaha lain 6,06 persen. Targetnya, pembangkit EBT yang terpasang mencapai 16,63 GW hingga Desember 2026.
"Jadi tambahan yang sudah ada saat ini memang terbanyak terjadi dari PLTS sebanyak 89,5 megawatt dan bioenergi dari biomassa itu 13 megawatt, serta pembangkit listrik mikro hidro sebanyak 2,9 megawatt," jelas Eniya.
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno, mengatakan total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional per April 2026 mencapai 108 GW, dari jumlah tersebut 79,05 GW atau 73 persen berada dalam wilayah usaha PLN, sementara sisanya 27 persen dikelola oleh BUMN maupun swasta lainnya dengan skema izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri.
"Kalau kita lihat dari jenis energi yang digunakan, pembangkit masih menggunakan energi fosil sebesar 91,58 GW atau 85 persen, dengan rincian batu bara 56 persen, gas 23 persen, BBM 6 persen," ungkapnya.
Hingga April 2026, produksi listrik nasional dari energi fosil mencapai 165,51 TWh, dengan tren bauran energi mencakup pembangkit batu bara 64,87 persen dari target 62 persen, pembangkit gas 13 persen, dan pembangkit BBM 3,38 persen. Sementara porsi pembangkit EBT secara keseluruhan mencapai 26 GW atau 15 persen.
Berdasarkan wilayah, Jawa-Bali memproduksi 87,43 terawatt-hour dengan porsi batu bara sekitar 70,96 persen dan EBT mencapai 10 persen. Wilayah Sumatra sebesar 32 terawatt-hour dengan porsi EBT 41 persen, kemudian wilayah Kalimantan 9,81 terawatt-hour dengan porsi EBT 25,29 persen.
Selanjutnya, Sulawesi dengan produksi 18,29 terawatt-hour porsi EBT EBT 20,59 persen, sementara wilayah Maluku-Papua memiliki porsi batu bara sangat tinggi sebesar 98,9 persen dan capaian EBT sebesar 3,67 persen, serta wilayah Nusa Tenggara dengan produksi 2,59 terawatt-hour memiliki porsi EBT 20,35 persen, sementara BBM masih 33,21 persen.
"Ini mencerminkan bahwa pada wilayah Timur Indonesia ketergantungan pembangkit berdasarkan bagi batu bara dan BBM masih relatif tinggi," tandas Tri.
