Pemerintah Bidik Ekspor Kopi Indonesia Tembus hingga Rp 200 Triliun

Pemerintah menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia meningkat hingga mencapai Rp 200 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Upaya tersebut ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat meninjau Kebun Perbenihan Kopi Rimba Raya KM 60 di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7).
Kunjungan itu dilakukan untuk memastikan kualitas bibit kopi yang akan menjadi dasar peningkatan produksi sekaligus memperkuat daya saing Kopi Gayo di pasar internasional.
Amran mengapresiasi kualitas pembibitan kopi yang dinilai telah dikelola dengan baik. Menurutnya, ketersediaan bibit unggul menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas kebun dan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.
“Kami sangat puas. Pembibitannya sangat bagus, betul-betul dikawal. Saya mengapresiasi Direktur, jajaran di wilayah Aceh, dan para PPL yang bekerja dengan baik mendampingi petani,” kata Amran melalui keterangannya, dikutip Rabu (15/7).
Ia mengungkapkan pemerintah telah menyalurkan bantuan pengembangan kopi di Aceh seluas sekitar 17 ribu hektare dengan total 17 juta batang bibit kopi. Berdasarkan laporan pemerintah daerah, program tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan pekebun hingga sekitar Rp 4 triliun.
“Insyaallah tahun depan kita tingkatkan lagi. Yang penting tanaman ini dirawat dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” ujar Amran.
Amran menilai potensi Kopi Gayo sangat besar karena kualitasnya telah diakui di pasar internasional. Ia bahkan mengenang pengalamannya saat berkunjung ke Meksiko dan Argentina, ketika Kopi Gayo menjadi topik pembicaraan bersama Presiden Amerika Serikat ke-42, Bill Clinton.
“Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh,” tutur Amran.
Menurutnya, penguatan sektor hulu melalui penyediaan bibit berkualitas merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produksi dan memperluas daya saing kopi Indonesia di pasar ekspor. Ia pun optimistis Kopi Gayo dapat menjadi salah satu penopang utama ekspor komoditas perkebunan nasional, dengan menargetkan nilai ekspor hingga Rp 200 triliun.
“Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo. Sekarang nilai ekspor kopi kita sudah mencapai sekitar Rp 40 triliun. Ke depan harus kita dorong menjadi Rp 100 triliun, bahkan kalau bisa Rp 200 triliun. Potensinya sangat besar,” sebut Amran.
Ia juga menyoroti tren kenaikan harga kopi yang saat ini mencapai sekitar Rp 110 ribu per kilogram, meningkat dari kisaran Rp 50 ribu per kilogram sebelumnya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani, sehingga pemerintah akan terus memperkuat produksi sekaligus memperbaiki tata niaga agar nilai tambah lebih banyak dinikmati oleh petani.
Selain itu, pihaknya tengah menyiapkan penguatan sistem ekspor nasional guna meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar global. Melalui sistem tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menentukan harga komoditas unggulan, termasuk kopi.
“Kita ingin Indonesia sebagai produsen memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya.
Amran kemudian memastikan dukungan pemerintah terhadap pengembangan Kopi Gayo akan terus berlanjut pada tahun depan. Ia menilai sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani menjadi kunci untuk memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu sentra kopi terbaik di dunia.
“Potensinya sangat besar. Masyarakatnya pekerja keras, pemerintah daerah juga sangat mendukung. Karena itu, tahun depan kita bantu lagi agar Kopi Gayo semakin maju dan petaninya semakin sejahtera,” imbuh Amran.
