Kumparan Logo

Pemerintah Cermati Situasi Geopol dan Keamanan ke Surat Utang Negara

kumparanBISNISverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Thinkstock)

Situasi politik dan keamanan dalam negeri turut mempengaruhi Surat Utang Negara (SUN). Hal ini dianggap sebagai suatu dinamika dalam perekonomian.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman mengatakan, pemerintah akan terus mencermati dinamika tersebut.

"Ini kan dinamikanya, ekonomi enggak immune, ada dinamika global dan domestik, itu yang kami cermati," ujar Luky di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (11/5).

Terkait faktor global seperti penguatan dolar AS, lanjut dia, hal ini turut mempengaruhi SUN, khususnya berdenominasi valuta asing (valas). Untuk itu, pemerintah mencari berbagai macam alternatif, mulai dari pinjaman multilateral hingga penawaran kepada investor tertentu (private placement).

Ilustrasi mata uang Rupiah. (Foto: AFP/Romeo Gacad)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata uang Rupiah. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Namun demikian, Luky memastikan, penerbitan SUN berdenominasi yen atau Samurai Bond tetap sesuai jadwal pada semester I 2018. Dia menilai, Jepang masih memiliki potensi yang besar terhadap SUN.

"Kalau Jepang itu marketnya sedikit beda, kalau lihat juga penguatan indeks dolar AS hampir ke seluruh mata uang, jadi kami lihat peluang di sana (Jepang). Kami selalu konsultasi dengan partner kami lihat market seperti apa, ibaratnya untuk saat ini masih tetap berprospek lah untuk Samurai Bond," jelasnya.

Luky pun optimistis investor tetap memperhitungkan Indonesia. Sebab dari awal tahun hingga hari ini, transaksi beli (nett buy) lebih besar dari transaksi jual (nett sell) asing tumbuh 6-7% (ytd) atau sekitar Rp 6 triliun.

"Kalau dilihat di bulan Februari terjadi nett sell, April juga terjadi nett sell, tapi sampai per tanggal kemarin itu masih nett buy, bond itu masuknya banyak. Februari keluar, Maret ada masuk lagi, April keluar lagi, nett-nya itu masih postif Rp 6 triliun," tambahnya.