Kumparan Logo

Pemerintah Gelontorkan Rp 23,8 T untuk KIP dan KIP Kuliah

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Siswa kelas 3 dari SD Kemeri Rejo 1 ini naik ke panggung dan dites oleh Jokowi terkait hafalan Pancasila. Foto: Youtube/Biro Setpers
zoom-in-whitePerbesar
Siswa kelas 3 dari SD Kemeri Rejo 1 ini naik ke panggung dan dites oleh Jokowi terkait hafalan Pancasila. Foto: Youtube/Biro Setpers

Presiden Jokowi ingin semua anak di Indonesia bisa mengenyam pendidikan demi memperkuat sumber daya manusia dalam negeri. Untuk itu, kata Jokowi, pemerintah membuat Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi siswa SD-SMA/SMK dan KIP kuliah bagi mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

"Agar anak-anak kita juga yang pinter-pinter kuliah semuanya. Tidak berpikir masalah biaya tapi karena pemerintah menyediakan baik dari KIP kuliah maupun LPDP, baik di dalam negeri maupun sekolah luar negeri dijamin beasiswanya oleh KIP kuliah maupun LPDP," kata Jokowi di Blora, Selasa (23/1).

Jokowi mengungkapkan, pemerintah telah menggelontorkan biaya puluhan triliun rupiah untuk KIP dan KIP kuliah.

"Untuk KIP, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 11 triliun. Ini untuk 20 juta siswa di seluruh tanah air Indonesia, 20 juta. Untuk yang KIP kuliah, pemerintah menyediakan Rp 12,8 triliun agar anak-anak kita kuliah semuanya," ungkap Jokowi.

instagram embed

Saat ini, Jokowi mengatakan ada 960 ribu anak yang mendapat beasiswa kuliah lewat KIP kuliah. Sehingga, Jokowi mengajak para siswa untuk belajar dengan rajin.

"Saya tanya murid bapaknya apa, kerjanya kuli bangunan, Pak. Enggak apa-apa itu juga sebuah pekerjaan yang mulia. Tapi anaknya harus kuliah. Saya tanya lagi yang lain orang tuamu kerja apa, sopir, Pak. Tidak apa-apa. Bapakmu kerja keras tapi anaknya harus sekolah sampai kuliah dan lulus," ungkap Jokowi.

Jokowi kemudian mencontohkan dirinya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Sehingga, ia ingin anak-anak di Indonesia bisa bersekolah hingga ke jenjang yang tinggi.

"Bapak saya juga bukan orang yang berpunya. Orang tua saya juga bukan orang tua yang berpunya saat itu. Saya tidak mau anak-anak kita ada yang tidak sekolah gara-gara orang tuanya tidak mampu membiayai. Semua harus sekolah," pungkasnya.