Pemerintah Kucurkan hingga Rp 40 Miliar untuk Riset Pertanian dan Inovasi Pangan
·waktu baca 2 menit

Pemerintah berkomitmen memperkuat ketahanan pangan dengan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 20 miliar hingga Rp 40 miliar untuk riset dan inovasi pertanian.
Anggaran tersebut difokuskan pada pengembangan sejumlah komoditas pangan penting yang masih banyak diimpor, seperti gandum, kedelai, bawang putih, dan jagung.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah akan lebih serius menggarap komoditas seperti gandum dan kedelai, yang selama ini belum menjadi fokus utama.
"Kita fokus pada komunitas yang selama ini sulit tumbuh di Indonesia yaitu gandum. Kedelai, kita fokus ke sana itu perintah Bapak Presiden," kata Amran kepada wartawan, Rabu (28/5).
Untuk mendukung riset ini, Kementan menggandeng universitas dan lembaga penelitian dari dalam maupun luar negeri. Bahkan, delegasi Indonesia sudah diberangkatkan ke Yordania dan Brasil, dua negara yang memiliki kesamaan iklim pertanian dengan Indonesia.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menambahkan, program riset ini tidak hanya berhenti pada penelitian di laboratorium, tetapi juga akan langsung diterapkan di lapangan. Target utamanya adalah meningkatkan produksi dan secara perlahan mengurangi ketergantungan impor.
"Penelitiannya sudah panjang, sudah dimulai dari tahun 90-an, dan kita ingin penelitian ini kita tuntaskan dan kita implementasikan," ujarnya.
Dia menjelaskan, setiap komoditas akan ditangani oleh kelompok riset khusus atau konsorsium yang terdiri dari tim gabungan. Tim ini melibatkan peneliti dari kampus, Kementerian Pertanian, dan juga pelaku industri.
"Dari hulu sampai hilir, dari nol sampai dengan final, betul-betul kita bisa kontrol, bisa kita manage, satu komando bisa kita kerjakan," kata Sudaryono.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, menekankan pentingnya keterlibatan kampus dalam mendukung kebutuhan nasional melalui riset yang langsung menyentuh praktik di lapangan.
"Kita akan anggarkan antara Rp 20 miliar sampai Rp 40 miliar untuk total anggaran riset dan inovasinya,” kata Brian.
Dia menjelaskan, tim-tim riset ini tidak hanya akan fokus pada varietas tanaman, tapi juga teknologi budidaya, pengendalian hama, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga proses hilirisasi atau pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Penelitian ini tidak hanya menghasilkan hasil riset, tetapi lebih jauh dari itu kita ingin benar-benar sampai kepada hilir. Ini adalah konsorsium yang sangat lengkap,” ujarnya.
