Pemerintah Mau Kembangkan Bioetanol Tebu untuk BBM, Apa Saja Tantangannya?

23 Januari 2023 15:28
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Jokowi kunjungan kerja ke  Pabrik Bioetanol PT. Enero PTPN X Jalan Raya Gempolkerep, Kecamatan Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur pada Jumat (4/11/2022). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Jokowi kunjungan kerja ke Pabrik Bioetanol PT. Enero PTPN X Jalan Raya Gempolkerep, Kecamatan Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur pada Jumat (4/11/2022). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Pemerintah tengah mempersiapkan kembali implementasi bahan bakar nabati (BBN) bioetanol 5 persen (E5) yang berasal dari tetes tebu untuk campuran BBM. Program tersebut sudah berhasil dilakukan di negara lain, seperti Brasil dan India.
Adapun program bioetanol sudah dicanangkan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. Beleid tersebut mengatur pengembangan bioetanol E5 pada 2020 dan secara bertahap meningkat ke E20 pada 2025.
Dalam perkembangannya, program bioetanol sempat terkendala karena masalah harga di tahun 2015, sehingga target kadar bioetanol yang akan diluncurkan diturunkan menjadi 2,5 persen.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menjelaskan pasang surut pengembangan program bioetanol selama ini lantaran terkendala masalah harga yang belum sesuai keekonomian.
"Harga untuk memproduksi fuel grade etanol itu masih cukup mahal dibandingkan dengan harga jualnya pada waktu itu. Etanol bisa dihasilkan dari kedelai, jagung, sorgum, dan tebu, karena dulu persoalan keekonomian tidak masuk maka tidak bisa jalan," jelasnya kepada kumparan, Senin (23/1).
Fabby melanjutkan, tantangan lain dalam memproduksi fuel grade etanol yaitu membutuhkan proses dengan teknologi tinggi. Hal ini yang membuat biayanya sangat mahal untuk menghasilkan etanol untuk campuran BBM.
Dia menuturkan, jika pemerintah saat ini hendak mendorong kembali implementasi E5, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan, kontinuitas pasokan, serta harga dari produk fuel grade etanol.
"Kalau di Brasil kan mengembangkan dari tebu, dan mengapa etanol di Brasil bisa murah karena produktivitas tebunya tinggi. Kalau kita mau dari tebu, produktivitasnya harus tinggi seperti Brasil," jelasnya.
"Per hektare tanaman tebu itu bisa menghasilkan sekian ton molase yang diubah menjadi etanol. Ini tantangan di indonesia dengan produktivitas tebu yang rendah," tambah Fabby.
Fabby menjelaskan, kebun tebu di Indonesia rata-rata sudah tua dengan peremajaan kebun yang rendah. Menurut dia, selain tugas Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian juga harus meningkatkan produktivitas tebu untuk mensukseskan program E5.
"Memang harus ada dukungan dari kementerian sektoral untuk meningkatkan produktivitas tebu, kalau nanti tidak meningkatkan produktivitas nanti produksi gulanya juga terganggu," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Edi Wibowo, mengatakan hingga saat ini belum ada penambahan kapasitas produksi bioetanol fuel grade di Indonesia, yaitu masih di angka 40.000 kiloliter (KL).
Adapun produksi bioetanol tersebut akan dipasok sekitar 30.000 KL dari pabrik bioetanol PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Kabupaten Mojokerto, sementara 10.000 KL sisanya dari PT Molindo Raya Industrial di Kabupaten Malang.
Dengan kapasitas tersebut, lanjut Edi, rencananya E5 akan diimplementasikan terlebih dahulu di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Pihaknya masih menunggu kesiapan badan usaha (BU) BBN maupun BU BBM.
"Saat ini masih dibahas dan dipastikan kembali kesiapan implementasinya, baik kesiapan BU BBN dan BU BBM serta harganya," ujarnya saat dihubungi kumparan, Senin (23/1).