Pemerintah Target Kendaraan di RI Tak Lagi Pakai BBM Mulai 2045
ยทwaktu baca 3 menit

Pemerintah menargetkan seluruh kendaraan di Indonesia tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak (BBM) mulai tahun 2045. Masyarakat diharapkan sudah menggunakan kendaraan listrik pada tahun tersebut.
Deputi Bidang Koordinator Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, mengatakan saat ini Indonesia mengekspor energi primer, sekaligus menjadi importir.
Mengutip catatan Kementerian ESDM, Rachmat menyebutkan Indonesia memproduksi sekitar 3.600 juta barel setara minyak (BOE) energi primer yang mencakup batu bara, minyak, gas, sekaligus mengekspor sekitar 2.000 juta BOE.
Sementara total pasokan atau kebutuhan energi primer yang digunakan sekitar 1.900 juta BOE. Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor sekitar 401 juta BOE yakni mayoritas minyak sebesar 292 BOE, lalu LPG, dan batu bara.
"Bayangkan sebuah negara yang memproduksi 3.600 (juta BOE) hanya menggunakan 1.900, tetapi mengimpor 400. Mengapa kita perlu mengimpor? Menurut saya masalahnya adalah cara kita menggunakan energi, kita sebenarnya menggunakan sesuatu yang tidak kita miliki, yaitu minyak," jelas Rachmat saat sesi tematik International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, dikutip Kamis (12/6).
Rachmat menuturkan, dari total pasokan energi primer, Indonesia mayoritas menggunakan bahan bakar untuk pembangkit listrik yakni 44 persen. Namun sayangnya, listrik hanya digunakan 16 persen untuk konsumsi penggunaan akhir (end use) di Indonesia, dan 40 persen menggunakan minyak atau BBM.
Adapun dari total konsumsi energi pengguna akhir sebesar 1.237 juta BOE, 40 persen menggunakan minyak, 26 persen batu bara, lalu 16 persen listrik, 10 persen gas, dan 9 persen energi terbarukan.
"Kita tidak dapat melupakan fakta bahwa kita masih memiliki sekitar 150 juta kendaraan yang menggunakan minyak (BBM), dan akan butuh waktu bagi mereka untuk berubah," tutur Rachmat.
Dengan demikian, Rachmat menargetkan seluruh kendaraan di Indonesia tidak lagi menggunakan BBM pada tahun 2045. Seluruh pasokan BBM bisa dialihkan untuk moda lain, seperti untuk campuran bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Mudah-mudahan di masa depan, pada tahun 2045, kita tidak lagi menggunakan minyak cair (BBM) untuk transportasi. Jadi, kita bisa menyediakan semua bahan baku untuk SAF," ungkapnya.
Saat ini Indonesia sudah menerapkan mandatori biodiesel 40 persen (B40). Rachmat mencatat, Indonesia memproduksi feedstock minyak kelapa sawit (CPO) sekitar 50 juta ton per tahun, 10 juta ton digunakan untuk bahan bakar kendaraan.
"Lebih dari 10 juta kita menggunakannya untuk mobil, yang merupakan sesuatu yang dapat kita elektrifikasi. Jadi, saya pikir ada banyak harapan bagi Indonesia untuk menjadi penyedia," jelasnya.
"Transisi ini akan memakan waktu. Tetapi kita memiliki cukup energi untuk mendekarbonisasi transportasi kita," pungkas Rachmat.
