Kumparan Logo

Pemerintah Tarik Utang Rp 494,3 Triliun hingga September 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersama tiga Wakil Menteri Keuangan dalam konferensi pers APBN KiTA September 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersama tiga Wakil Menteri Keuangan dalam konferensi pers APBN KiTA September 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pemerintah telah menarik pembiayaan utang senilai Rp 494,3 triliun hingga 30 September 2026. Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan realisasi tersebut mencapai 59,4 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 senilai Rp 832,2 triliun.

Kata Suahasil, pemerintah menjaga pembiayaan utang tetap sesuai jalur atau on track dengan menyesuaikan kebutuhan kas dan dinamika pasar. Pemerintah juga mempertimbangkan biaya dana atau cost of fund yang efisien dengan tingkat risiko yang masih dapat dikelola.

“Pembiayaan utang berikutnya terjaga on track,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (9/10).

Suahasil mencatat pemerintah telah merealisasikan pembiayaan utang melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp 497,5 triliun hingga 30 September 2026. Angka tersebut setara dengan 62,2 persen dari target dalam APBN 2026 yang sebesar Rp 799,5 triliun.

Sementara itu, pembiayaan melalui pinjaman tercatat negatif Rp 3,2 triliun, dibandingkan target APBN sebesar Rp 32,7 triliun. Suahasil menjelaskan penerbitan SBN dilakukan dengan mencermati kondisi pasar keuangan domestik maupun perkembangan ekonomi global.

Pemerintah berupaya memanfaatkan momentum ketika kondisi pasar mendukung penerbitan, sekaligus menyesuaikan strategi apabila kondisi pasar sedang kurang kondusif.

“Tapi juga harus opportunistic, kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan, lagi kurang bagus pasarnya kita agak lakukan adjustment sedikit untuk melihat pasar itu,” tutur Suahasil.