Penambangan Tak Ramah Lingkungan Disebut Jadi Alasan Tesla Berat Investasi di RI

1 Agustus 2023 12:11
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat menemui Elon Musk di Giga Factory Texas. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
Rencana Tesla untuk investasi membangun pabrik kendaraan listrik di India tinggal selangkah lagi. Berdasarkan laporan Reuters, dua eksekutif senior Tesla sudah membahasnya di pembicaraan tingkat tinggi kepada pemerintah setempat.
ADVERTISEMENT
Sementara di Malaysia, perusahaan milik Elon Musk itu sudah resmi investasi. Menurut Perdana Menteri Anwar Ibrahim, stabilitas politik di Malaysia jadi pertimbangan Elon mantap bikin pabrik di sana.
Berbeda dengan Indonesia, investasi Tesla di Tanah Air masih tarik ulur. Saat ini Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan terbang ke Amerika Serikat menemui Bos Tesla, Elon Musk untuk negosiasi lagi investasi itu.

Lantas, apa yang membuat Tesla tertarik investasi di India sementara di Indonesia belum ada titik terang?

Founder Indonesia National Battery Institute, Evvy Kartini, menilai sebenarnya Tesla juga berminat investasi di Indonesia. Namun menurutnya ada pertimbangan penerapan environmental, social, and corporate governance (ESG) yang dinilai belum optimal dilakukan di Indonesia.
Evvy mencontohkan, walaupun mobil listrik bisa menekan emisi, namun proses produksi listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil.
ADVERTISEMENT
"Inginnya Elon Musk itu, penambangan dengan energi bersih. Jadi dari hulu ke hilirnya bersih," kata Evvy saat ditemui di acara International Battery Summit di Grand Sahid, Jakarta, Selasa (1/8).
Ilustrasi pabrik Tesla. Foto: Shutter Stock
Elon Musk juga melirik Australia sebagai tempat investasi karena di sana memiliki potensi energi bersih yang dipakai untuk proses penambangan.
"Makannya dia prefer ke sana. Yang harus diubah dari Indonesia ini bagaimana ESG semuanya harus bersih," tegasnya.
Sementara untuk faktor bahan baku dan demand pasar, Evvy menegaskan Indonesia tidak kalah dari India maupun Australia. Meski tak ada lithium dan grafit, dua bahan baku itu masih bisa didapatkan untuk melengkapi nikel yang kaya di Indonesia.
"Enggak usah takut demand, Indonesia negara keempat terbesar di dunia. Demand ada di sini, marketnya di Indoensia," pungkasnya.
ADVERTISEMENT

Dibantah Anak Buah Luhut

Ditemui di tempat yang sama, Asisten Deputi Pertambangan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves), Tubagus Nugraha membantah penilaian Evvy.
Tubagus optimistis kepulangan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ke Indonesia akan membawa kabar baik. Sementara untuk penerapan ESG di pertambangan Indonesia, dia mengatakan memang masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
"Mereka belum begitu proper, masih banyak kekurangan sana sini. Tentu kita pemerintah bantu mereka untuk memperbaiki pengelolaan aspek ESG di kawasan industrinya," pungkas dia.