Kumparan Logo

Pendapatan Adhi Karya Capai Rp 3,8 Triliun per Semester I 2025, Turun 33 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gedung Adhi Karya. Foto: Adhi Karya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gedung Adhi Karya. Foto: Adhi Karya

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan pendapatan mencapai Rp 3,8 triliun pada semester I 2025. Angka itu turun 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang ada di Rp 5,68 triliun.

Direktur Keuangan ADHI, Bani Iqbal, menjelaskan penurunan ini ada kaitannya dengan perubahan arah kebijakan anggaran pemerintah.

“Sampai dengan semester 1 2025, di mana dari sisi kondisi laba rugi, bisa kita lihat bahwa pendapatan kami itu menurun. Pertama ini diakibatkan dari refocusing anggaran pemerintah, yang dari awalnya infrastruktur itu cukup dominan, itu menjadi ke anggaran lain-lain,” ungkap Bani dalam publik Ekspose secara daring, Senin (8/9).

Meski pendapatan tergerus, ADHI masih mencatatkan perbaikan margin. Laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp 521 miliar atau tumbuh 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara margin laba kotor meningkat hingga 15 persen dan margin laba operasional nyaris dua kali lipat secara tahunan.

“Sementara untuk dari sisi net profit, bisa kita lihat bahwa kita cukup tertekan, ini terdampak oleh beberapa hal,” kata Bani.

Bani menuturkan tekanan terutama datang dari menurunnya kontribusi laba dari bisnis joint venture (JV), yang sepanjang 2024 sempat menyumbang hampir 45 persen dari total laba bersih.

Selain itu, beban bunga masih cukup tinggi akibat penggunaan pembiayaan berbasis utang, meski hingga kini masih bisa dikelola. Faktor lain yang juga memengaruhi adalah arahan pemegang saham baru yakni Danantara, yang mendorong penerapan prinsip konservatif melalui pencadangan lebih besar.

Tol Solo - Yogyakarta. Foto: Dok. Jasa Marga

Bani menjelaskan perbaikan terlihat dari sisi proyek yang menjadi sumber utama pertumbuhan. Ia menyebut pendapatan dominan berasal dari Jalan Tol Solo-Yogyakarta dan Yogyakarta-Bawen, dua proyek yang dikerjakan ADHI bukan hanya sebagai kontraktor, tetapi juga sebagai investor bersama Jasa Marga.

Selain itu, proyek Pusri 3B juga menjadi penopang penting sekaligus milestone bagi ADHI untuk masuk ke segmen EPC yang dinilai memiliki potensi jangka panjang lebih besar.

Dari sisi neraca, ADHI mencatat total aset Rp 34,4 triliun pada kuartal II 2025 atau menurun 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dibarengi dengan turunnya liabilitas sebesar 8 persen menjadi Rp 24,7 triliun, terutama berkat pelunasan kewajiban.

“Sementara dari sisi kondisi neraca ya tentunya karena kita adalah kontraktor dimana apabila dari sisi penjualan kita turun tentunya juga dari total aset kita turun tapi penurunan ini juga dibarengi dengan penurunan utang yang cukup signifikan,” jelas Bani.