Pendapatan Blibli Sentuh Rp 7,83 Triliun pada Kuartal I 2026, Melonjak 67%
·waktu baca 3 menit

PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mencatat kinerja keuangan yang solid pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan pendapatan neto Blibli melonjak 67 persen secara tahunan atau year on year (yoy) di Rp 7,83 triliun.
Perseroan menyebut kenaikan ini didorong oleh peningkatan kinerja di seluruh segmen usaha, terutama segmen institusi dan toko fisik yang ditopang penjualan smartphone.
Selain pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga mencatat peningkatan kualitas monetisasi. Take rate naik dari 9,0 persen pada periode yang sama tahun lalu menjadi 9,9 persen, seiring pertumbuhan laba bruto sebelum diskon (GPBD) sebesar 21 persen yoy.
Dari sisi efisiensi, Blibli berhasil memperbaiki struktur biaya. Rasio beban operasional terhadap total processing value (TPV) turun dari 7,3 persen menjadi 6,4 persen. Hal ini mendorong perbaikan signifikan pada margin EBITDA terhadap TPV sebesar 200 basis poin.
CEO & Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, mengatakan kinerja awal tahun ini mencerminkan konsistensi eksekusi strategi perusahaan.
“Kami memulai tahun 2026 dengan momentum yang solid, ditandai pertumbuhan pendapatan dua digit serta peningkatan profitabilitas secara berkelanjutan,” ujar Kusumo dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (1/5).
Kusumo mengungkapkan strategi omnichannel dan integrasi ekosistem jadi kunci pertumbuhan. Perseroan juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan konversi transaksi.
Secara operasional, segmen institusi mencatat pertumbuhan paling tinggi dengan kenaikan pendapatan neto 137 persen yoy menjadi Rp 3,55 triliun. Sementara, segmen toko fisik tumbuh 60 persen yoy menjadi Rp 2,32 triliun.
Di sisi lain, segmen ritel 1P dan 3P juga tetap tumbuh masing-masing 13 persen dan 9 persen yoy.
Blibli juga memperluas jaringan fisiknya dengan menambah 35 toko baru sepanjang kuartal pertama 2026. Hingga akhir Maret 2026, perusahaan mengoperasikan 295 toko elektronik konsumen, 9 toko elektronik rumah tangga, dan 1 toko fesyen & olahraga. Perseroan juga mengelola 58 gerai supermarket premium dan 37 home and living experience centers.
Dari sisi profitabilitas, rugi usaha berhasil ditekan menjadi Rp 204 miliar dari Rp 583 miliar pada periode yang sama tahun lalu. EBITDA juga membaik menjadi minus Rp 133 miliar, dibandingkan minus Rp 511 miliar pada kuartal I 2025.
Chief Financial Officer (CFO) Blibli, Ronald Winardi, menyebut peningkatan ini didorong oleh disiplin operasional dan efisiensi biaya.
“EBITDA terhadap TPV kami menjadi 0,6%, yang menggarisbawahi penguatan unit ekonomis dan operating leverage di mana kami terus melangkah maju menuju peta jalan profitabilitas kami,” ujarnya.
Ke depan, Blibli menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15-20 persen sepanjang 2026. Target ini didukung oleh penguatan strategi omnichannel, peningkatan margin, serta efisiensi biaya.
Perseroan juga bakal terus memperkuat integrasi ekosistem, termasuk melalui pengembangan layanan fulfillment dan kolaborasi antarplatform seperti Blibli dan tiket.com.
