Pendapatan Merdeka Battery Capai USD 1,435 M di Tengah Pelemahan Harga Nikel
ยทwaktu baca 2 menit

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat pendapatan sekitar USD 1,435 miliar dan EBITDA sebesar USD 219 juta sepanjang 2025 di tengah melemahnya harga nikel global.
Sepanjang 2025, tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi salah satu penopang utama kinerja Perseroan. MBMA mencatat produksi bijih saprolit sebesar 7,0 juta wet metric ton (wmt) dan produksi limonit sebesar 14,7 juta wmt.
Peningkatan produksi itu mendukung kebutuhan bahan baku bagi fasilitas hilir milik Perseroan sekaligus memperkuat integrasi operasional di seluruh rantai nilai nikel.
Di segmen hilir, MBMA juga mencatat pertumbuhan produksi dan perbaikan margin. Produksi Nickel Pig Iron (NPI) tercatat sebesar 73.871 ton, sementara produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai sekitar 19.998 ton.
Proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) milik Perseroan juga menunjukkan perkembangan. Produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) mencapai sekitar 25.994 ton sepanjang 2025.
MBMA juga melanjutkan pengembangan proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI). Perseroan menyebut empat fasilitas pengolahan yang terintegrasi penuh terus menunjukkan perkembangan konstruktif dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh.
Pada tahun 2026, MBMA menargetkan pertumbuhan produksi yang lebih tinggi. Produksi bijih saprolit diproyeksikan mencapai 8-10 juta wmt, sedangkan produksi bijih limonit ditargetkan sebesar 20-25 juta wmt.
Untuk segmen hilir, produksi NPI ditargetkan berada di kisaran 70.000-80.000 ton, sementara produksi HGNM diperkirakan mencapai 44.000-48.000 ton.
Perseroan juga menargetkan efisiensi biaya lebih lanjut melalui peningkatan pasokan saprolit dari SCM. MBMA memperkirakan dapat mencapai swasembada bijih 100 persen pada tahun fiskal 2026.
Salah satu yang telah dilakukan adalah memulai pengoperasian Feed Preparation Plant (FPP). Fasilitas ini digunakan untuk mengirim slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM HPAL ke HPAL PT ESG New Energy Material yang diharapkan bisa meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung target produksi MHP sebesar 27.000-30.000 ton pada 2026.
Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun juga terus berjalan sesuai rencana. Perseroan menargetkan commissioning jalur pertama proyek tersebut pada semester kedua 2026.
Presiden Direktur MBMA Teddy Oetomo mengatakan bakal terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang Perseroan.
"MBMA berhasil mempertahankan kinerja yang tetap tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir," jelas Teddy dalam keterangan resmi, Selasa (31/3).
