Kumparan Logo

Pendapatan Riil Masyarakat Indonesia Terus Turun, Tapi Biaya Hidup Naik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah penumpang berjalan menuju ke kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek tujuan Stasiun Jakarta Kota di Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (30/7/2024). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penumpang berjalan menuju ke kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek tujuan Stasiun Jakarta Kota di Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (30/7/2024). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengungkap sejumlah tantangan ekonomi yang harus dihadapi Indonesia. Salah satunya tren penurunan pendapatan disposabel (disposable income).

Adapun Disposable income menggambarkan nilai maksimum pendapatan masyarakat yang tersedia (setelah dikurangi pajak), yang dapat digunakan untuk konsumsi.

Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Scenaider C.CH Siahaan, mengatakan proporsi disposable income terhadap GDP per kapita menunjukkan penurunan sejak 2010.

"Tantangan Indonesia adalah pendapatan disposabel masyarakat yang menunjukkan tren penurunan," kata Scenaider dalam paparannya saat rapat bersama Komite IV DPD RI, dikutip Selasa (3/9).

Menurut dia, sepanjang tahun 2010-2023 proporsi pendapatan individu yang dikeluarkan untuk konsumsi menunjukkan tren penurunan relatif terhadap GDP per kapita

Berdasarkan data yang dia paparkan, pada 2010 proporsi disposable income terhadap GDP per kapita sebesar 78,5 persen, kemudian naik dan menjadi yang tertinggi pada 2011 sebesar 78,9 persen.

Namun, tren tersebut terus menurun, yakni menjadi 77,5 persen di 2012, kemudian 77,1 persen di 2013, dan mencapai titik terendah di 2023 sebesar 72,7 persen.

"Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan disposabel meningkat, akan tetapi nilainya secara riil untuk konsumsi relatif menurun," katanya.

Tangkapan layar paparan Bappenas terkait disposable income. Dok: Istimewa

Menurut dia, penurunan pendapatan riil dipengaruhi oleh tekanan inflasi sebagai akibat ketidakpastian global seperti COVID-19, perang Rusia-Ukraina, perang dagang.

“Serta naiknya biaya hidup secara umum,” ujarnya.

Selain itu, Bappenas juga mengungkap tantangan pembangunan lainnya, yakni mayoritas penduduk Indonesia yang ternyata bekerja di sektor non produktif.

"18,9 juta orang bekerja di sektor manufaktur, dan masih banyak yang bekerja paruh waktu (36,8 juta orang), dan setengah pengangguran (12,1 juta orang)," katanya.

instagram embed