Kumparan Logo

Pendapatan United Tractors Turun 15% Jadi Rp 58,28 T, Ini Biang Keroknya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas pertambangan di United Tractors. Foto: United Tractors
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pertambangan di United Tractors. Foto: United Tractors

PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 58,28 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut turun 15 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka Rp 68,52 triliun.

Finance Director United Tractors, Vilihati Surya, menjelaskan penurunan pendapatan ini utamanya dipengaruhi oleh lebih rendahnya penjualan alat berat, volume pertambangan batu bara, serta kinerja dari sektor pertambangan emas.

“Ringkasan keuangan perseroan untuk periode 30 Juni 2026, kalau kita lihat memang pendapatan bersihnya United Tractors ini turun 15 persen, ya, ke angka Rp 58 triliun,” ujar Vilihati dalam acara Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).

Selain faktor tersebut, Vilihati menyebutkan penyesuaian alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional turut memberikan tekanan terhadap operasional sejumlah segmen bisnis perseroan.

Kuota RKAB dan Penurunan Penjualan Alat Berat

Kondisi tersebut paling terlihat pada segmen alat berat, khususnya penjualan produk Komatsu. Para pelanggan di sektor pertambangan batu bara terpaksa mengerem pembelian alat berat akibat dampak dari kebijakan RKAB.

Berdasarkan data, Komatsu United Tractors tercatat turun 21 persen menjadi 2.689 unit, dari sebelumnya 3.408 unit pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling signifikan terjadi pada kategori big machine yang merosot 49 persen ke angka 436 unit dari 860 unit.

“Unfortunately di tahun ini memang karena impact dari RKAB, mungkin teman-teman semua tahu ya, impact dari RKAB, indirectly customer-customer-nya di big machine sales, yang terutama di coal mining itu ngerem dulu untuk pembeliannya alat berat,” kata Vilihati.

Menurut Vilihati, big machine memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan lini alat berat karena nilai per unitnya bisa mencapai 10 hingga 15 kali lipat dibanding small machine. Dengan demikian, penundaan pembelian pada beberapa unit saja sudah langsung memengaruhi perolehan pendapatan.

Kemudian sepanjang semester I 2026, United Tractors baru mengantongi persetujuan RKAB sebesar 7,4 juta ton, dari kapasitas produksi potensial mencapai 15 juta ton.

“Kalau kita lihat memang sampai dengan first half kita RKAB-nya turun 50 persen, kita itu sebenarnya punya kapasitas bisa produksi sampai dengan 15 juta ton. Tapi pada pertengahan Juni kemarin, yang baru di-approve RKAB-nya itu baru 7,4 juta,” jelas Vilihati.

Hal ini kemudian membuat penjualan batu bara perseroan ikut terkoreksi 22 persen. Meski demikian, Vilihati menyebut adanya kenaikan alokasi RKAB menjadi 12,4 juta ton pada Agustus lalu.

Selain itu, aktivitas pertambangan secara keseluruhan di bawah Pama Group turut mengalami penyesuaian. Volume overburden removal turun 8 persen menjadi 670 juta bank cubic meter (bcm) sepanjang Januari-Agustus 2026 sementara produksi batu bara turun 3 persen menjadi 93 juta ton.

Pada lini bisnis emas, penjualan setara emas United Tractors mengalami penurunan tajam sebesar 74 persen menjadi 42.000 ons. Penyebabnya adalah penghentian sementara operasional Tambang Emas Agincourt Resources pada kuartal pertama 2026, sebelum akhirnya kembali beroperasi dan menghasilkan penjualan pada kuartal kedua.

Di sisi lain, pendapatan dari segmen mining contracting tetap mencatatkan pertumbuhan positif meskipun volume aktivitas menurun. Hal tersebut terbantu oleh tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

Dari laporan keuangan United Tractors, laba bersih United Tractors sebelum memperhitungkan pos non-berulang (non-recurring items) turun 48 persen menjadi Rp 4,26 triliun pada semester I 2026. Setelah memperhitungkan pos non-recurring items, laba bersih terkoreksi 88 persen menjadi Rp 956 miliar dari Rp 8,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu.