Penerbangan Dibatasi karena Corona, Pedagang di Bandara Soekarno-Hatta Merana

Galih Anggita (25) sudah berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi-pagi sekali, Rabu (1/4). Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kedatangannya kali ini justru untuk menutup usaha yang ia geluti di kawasan transit oriented development (TOD) bandara yang berada di Tangerang, Banten itu.
Sebulan sudah Galih bertahan tetap membuka usaha mie ayam dan pecel yang ia jalankan di sana, sejak pemerintah mengumumkan dua warga Indonesia positif terjangkit virus corona, 2 Maret 2020 lalu. Sementara biro travel haji dan umrah, bisnis lainnya, sudah ditutup sejak Arab Saudi menutup akses umrah.
Padahal dalam rentang waktu itu, usahanya sudah mulai terpukul. Setiap hari omzet yang ia peroleh terus menurun di kisaran 10-20 persen. Ia masih bertahan dengan mempertimbangkan 6 karyawan yang penghasilannya bergantung pada usaha itu.
"Pelanggan saya mayoritas karyawan bandara. Semenjak kasus positive COVID-19 pertama di indonesia, itu terus menurut sekitar 10-20 persen. Semenjak kasus mulai banyak dan penerbangan dibatasi, otomatis terdampak pada karyawan bandara yang mulai diliburkan, puncaknya bisa turun pendapatan sampai 70 persen," ujar Galih kepada kumparan, Rabu (1/4).
Kini, mau tidak mau ia terpaksa menutup usaha. Penyebabnya lantaran penerbangan akhirnya semakin dibatasi per 1 April 2020 untuk menekan penyebaran virus corona.
Risiko merumahkan 6 karyawan tanpa diberi gaji, tak bisa lagi ia hindari. Ia mengirim beberapa foto yang menunjukkan betapa sepinya suasana di bandara.
"Sudah tutup dari sekarang, ada 6 karyawan semuanya saya rumahkan sementara. Tidak digaji, karena cashflow-nya tidak ada. terminal 1 saja sekarang dipusatkan hanya di terminal 1A, kemudian penerbangan internasional low cost yang semula di terminal 2F pindah ke terminal 3," jelasnya.
PT Angkasa Pura II memang memutuskan membatasi operasi di Terminal 1 dan 2 untuk optimalisasi pengendalian arus penumpang baik Domestik maupun Internasional.
Pembatasan pengoperasian Terminal 1 dan Terminal 2 terhitung mulai 1 April hingga 29 Mei 2020 adalah bersifat sementara selama masa Darurat Bencana Wabah COVID-19 di Indonesia.
Dengan memilih tutup, Galih mengatakan ia kehilangan omzet Rp 1 juta per hari. Belum lagi 6 karyawannya yang kehilangan pekerjaan untuk sementara waktu.
Kendati begitu, ia bukan satu-satunya pedagang yang memilih menutup usaha. Rekan-rekannya yang lain bahkan sebagian telah lebih dulu tutup sejak 20 Maret 2020.
Saat ini, sebagian tempat makan golongan menengah ke bawah sudah mengambil langkah yang sama dengannya. Hanya usaha makanan cepat saji yang sejauh ini masih bertahan.
"Kalau tempat makan beberapa yang menengah ke bawah sudah tutup. Kecuali yang besar-besar semacam KFC dan sebagainya," tuturnya.
Maskapai penerbangan tak kalah terpukul. Sepanjang Januari sampai Maret 2020, jumlah penumpang pesawat di rute domestik dan internasional di seluruh bandara PT Angkasa Pura II hanya 20,79 juta penumpang. Jumlah itu turun sekitar 4,84 persen dibandingkan Januari sampai Maret 2019.
Soekarno-Hatta yang merupakan bandara tersibuk di Indonesia, jumlah pergerakan penumpang sepanjang tiga bulan pertama tahun ini hanya 12,09 juta penumpang, turun 5,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, pergerakan pesawat turun tipis 0,26 persen atau menjadi 93.599 pergerakan dari sebelumnya 93.847 pergerakan.
Dampak yang sama juga turut dirasakan pilot hingga pramugari. Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memang membuat banyak pegawai khususnya pilot dan pramugari tidak bisa bekerja. Sehingga mereka ada yang memilih cuti.
“Sampai sejauh ini isunya baru ada yang cuti tidak dibayar, ada beberapa maskapai yang cuti dibayar juga ada, tergantung kesepakatan antara karyawan dan maskapainya,” kata Denon saat dihubungi kumparan, Rabu (1/4).
Denon membantah jika sudah ada pilot dan pramugari yang dirumahkan. Meski begitu, ia tidak menampik jika maskapai saat ini sedang mengalami masa-masa sulit.
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
