Kumparan Logo

Pengadilan Hong Kong Perintahkan Evergrande Dilikuidasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
China Evergrande Center di Hong Kong, China. Foto: Bobby Yip/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
China Evergrande Center di Hong Kong, China. Foto: Bobby Yip/REUTERS

Pengadilan Hong Kong pada Senin (29/1) waktu setempat, memutsukan perusahaan properti China Evergrande Group untuk dilikuidasi.

Kebijakan tersebut dinilai sebuah langkah yang akan menimbulkan dampak pada pasar keuangan Tiongkok, seiring dengan upaya membendung krisis yang semakin parah.

Evergrande, pengembang yang paling banyak berutang di dunia dengan total kewajiban lebih dari USD 300 miliar, membuat sektor properti terpuruk ketika gagal membayar utangnya pada tahun 2021.

Mengutip laporan Reuters, keputusan tersebut diambil Hakim Hong Kong, Linda Chan, mengatakan sudah cukup karena Evergrande gagal menawarkan komunikasi atau resolusi yang efisien selama lebih dari 18 bulan.

instagram embed

Saham perusahaan diperdagangkan turun sebanyak 20 persen sebelum sidang. Perdagangan dihentikan di China Evergrande dan anak perusahaannya yang terdaftar setelah putusan tersebut.

Keputusan likuidasi bagi pengembang tersebut, yang memiliki aset senilai USD 240 miliar, kemungkinan akan mengguncang pasar modal dan properti Tiongkok yang sudah rapuh.

Adapun Beijing saat ini sedang bergulat dengan perekonomian yang berkinerja buruk, pasar properti terburuk dalam sembilan tahun terakhir, dan pasar saham yang berada di posisi terendah dalam lima tahun terakhir.

Proses Likuidasi Rumit

China Evergrande Center di Hong Kong, China. Foto: Bobby Yip/REUTERS

Proses likuidasi bisa jadi rumit dengan potensi pertimbangan politik, mengingat banyaknya pihak berwenang yang terlibat. Namun hal ini diperkirakan hanya berdampak kecil terhadap operasi perusahaan termasuk proyek pembangunan rumah dalam waktu dekat.

Likuidator luar negeri yang ditunjuk oleh kreditor dapat memerlukan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mengambil kendali anak perusahaan di seluruh daratan Tiongkok – yurisdiksi yang berbeda dari Hong Kong.

Sementara itu Evergrande telah mengerjakan rencana perombakan utang senilai USD 23 miliar dengan kelompok pemegang obligasi ad hoc selama hampir dua tahun. Rencana awalnya dibatalkan pada akhir September, ketika pendiri miliarder Hui Ka Yan sedang diselidiki atas dugaan kejahatan.

Petisi likuidasi pertama kali diajukan pada Juni 2022 oleh Top Shine, investor di unit Evergrande Fangchebao, yang menilai pengembang gagal menghormati perjanjian pembelian kembali saham yang telah dibeli di anak perusahaan tersebut.

Proses persidangan telah ditunda beberapa kali. Hakim Chan sebelumnya mengatakan bahwa sidang pada Desember tahun lalu akan menjadi yang terakhir sebelum keputusan apakah akan melikuidasi Evergrande karena tidak adanya rencana restrukturisasi yang konkret.