Kumparan Logo

Pengamat: Lengkungan Jembatan LRT Jabodebek Sudah Sesuai Regulasi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) melintas di jembatan rel lengkung (longspan) LRT Kuningan, Jakarta, Rabu (2/8/2023).  Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) melintas di jembatan rel lengkung (longspan) LRT Kuningan, Jakarta, Rabu (2/8/2023). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Ketua Umum Masyarakat Perkeretaapian (Maska) Hermanto Dwiatmoko mengatakan, jembatan melengkung atau longspan LRT Jabodebek dari Gatot Subroto ke Rasuna Said bukan salah desain. Desain tersebut menurutnya sudah sesuai dalam regulasi.

"Karena sesuai ketentuan Permenhub Nomor 60 tahun 2012 bahwa jalur lengkung relnya bagian luar dinaikkan dan ditinggikan untuk mengatasi gaya sentrifugal," kata Hermanto kepada kumparan, Senin (8/8).

Mantan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tersebut juga mencontohkan LRT di Sumatera Selatan melaju hanya 5 km/jam di jalur tikungan dengan panjang lengkung rel 80 meter.

MRT Jakarta melaju 35 km/jam di jalur tikungan dengan panjang lengkung 180 km. Sementara lengkung jalur LRT Jabodebek sepanjang 115 meter. "Kecepatan juga harus diturunkan menjadi 20 km/jam," sambung Hermanto.

Dihubungi terpisah, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, juga menegaskan tidak ada kesalahan dalam desain tikungan LRT tersebut.

embed from external kumparan

"Kalau belok seperti itu muncul daya sentifugal. Kalau dengan kecepatan tinggi, dengan gaya sentrifugal itu bisa terpental. Tujuannya mengurangi kecepatan agar tidak terjadi gaya sentifugal lebih besar," kata dia.

Apalagi, lanjut Djoko, desain lengkungan LRT tersebut sudah diuji oleh Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan hasil pemeriksaan KKJTJ menyebutkan tidak ada yang salah dengan desain lengkungan LRT tersebut.

Apalagi ada keterbatasan lahan, bila dipaksakan pembangunan jalur LRT bisa membabat habis gedung-gedung tinggi di sekitar lokasi.

"Jadi semua oke. Karena coba bayangkan (kalau) dari Warung Buncit ke Rasuna Said itu kan 90 derajat, kalau misalkan mau dilengkungkan panjang, hotel-hotel harus habis semua, tapi ini masih masuk dalam koridor keselamatan transportasi," kata Basuki saat ditemui di Indonesia Arena GBK, Jakarta, Senin (7/8).