Pengangguran Usia Muda RI Tertinggi di ASEAN, Mayoritas Lulusan SMA & Sarjana

Pandemi COVID-19 yang sudah merebak selama setahun lebih menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Kondisi ini tampak dari melonjaknya jumlah pengangguran di tanah air dalam kurun waktu 6 bulan pandemi, di mana lonjakan tersebut mencapai hampir 3 juta orang.
Tak berhenti sampai melonjaknya angka pengangguran, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, bahkan mengungkapkan tingkat pengangguran usia muda di Indonesia menjadi yang tertinggi di ASEAN.
"Yang lebih menarik lagi adalah di antara pengangguran tersebut, yang berusia muda ternyata Indonesia tidak ada saingannya di ASEAN. Indonesia paling tinggi sendiri, bahkan Filipina tidak setinggi Indonesia," jelas Faisal dalam webinar CORE Indonesia, Senin (3/5).
Faisal melanjutkan, riset CORE Indonesia juga menunjukkan fakta bahwa mayoritas yang menganggur justru mengantongi ijazah sekolah menengah atas (SMA) hingga bahkan yang menyandang gelar sarjana. Ini bertentangan dengan asumsi di tengah masyarakat terkait pendidikan membuka peluang kerja lebih besar.
"Dari sisi persentasenya, yang menganggur jauh lebih banyak dari sekolah menengah dan sekolah tinggi. Ini berkebalikan dengan asumsi kebanyakan orang, makin tinggi pendidikannya makin bisa mencari banyak pekerjaan," sambung Faisal.
Menurut Faisal, mengatasi masalah pengangguran ini jauh lebih berat dan mesti lebih diprioritaskan ketimbang pengentasan kemiskinan. Ia berpendapat, untuk membuat masyarakat kelas menengah ke bawah keluar dari kemiskinan adalah dengan memberikan kepastian terhadap akses pekerjaan berkelanjutan.
Sejak pandemi merebak, tak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan dan membuat angka pengangguran Indonesia nyaris menyentuh 10 juta orang. Belum lagi orang-orang yang terpaksa beralih dari pekerja formal menjadi pekerja informal.
Mengatasi kondisi ini, kata Faisal, jauh lebih penting menyiapkan lapangan kerja ketimbang memberikan bantuan sosial yang bersifat hanya sementara.
"Upaya pengurangan kemiskinan yang terbaik adalah dengan memberikan orang-orang miskin lapangan kerja daripada bansos. Bansos tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat, tapi untuk bisa orang miskin terangkat menjadi sejahtera secara berkelanjutan dengan memberikan lapangan kerja," pungkasnya.
