Kumparan Logo

Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Terus Turun Imbas Inflasi Meski Gaji Naik

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung memanjatkan doa pada hari kerja pertama Tahun Baru di kuil Kanda Myojin, di Tokyo, Jepang, Kamis (4/1/2024). Foto: Issei Kato/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memanjatkan doa pada hari kerja pertama Tahun Baru di kuil Kanda Myojin, di Tokyo, Jepang, Kamis (4/1/2024). Foto: Issei Kato/REUTERS

Belanja rumah tangga di Jepang tercatat turun untuk bulan keempat berturut-turut meskipun upah terus mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan rapuhnya kondisi konsumsi masyarakat.

Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang pada Selasa (12/5), pengeluaran rumah tangga yang telah disesuaikan terhadap inflasi tercatat turun 2,9 persen pada Maret dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut lebih buruk dibandingkan perkiraan ekonom yang memproyeksikan penurunan 1,3 persen. Secara bulanan, pengeluaran juga turun 1,3 persen setelah disesuaikan secara musiman dibandingkan Februari.

Sektor transportasi dan komunikasi menjadi penekan terbesar terhadap pengeluaran pada Maret. Selain itu biaya makanan, utilitas, dan pakaian juga turut membebani konsumsi. Di sisi lain, rumah tangga justru meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan penting seperti layanan kesehatan dan perumahan, seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (16/5).

Penurunan belanja ini menunjukkan prospek konsumsi yang masih rapuh ke depan. Meski pertumbuhan upah melampaui inflasi selama tiga bulan berturut-turut pada Maret, perang di Iran telah memicu lonjakan harga energi sehingga memunculkan kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat.

Warga mengenakan masker saat jam sibuk di Stasiun Shinagawa, Tokyo, Jepang, Selasa (26/5). Foto: REUTERS / Kim Kyung-Hoon

Sementara itu, Bank of Japan dalam laporan prospek terbarunya memperingatkan inflasi konsumen inti, di luar harga makanan segar, dapat naik hingga 3,1 persen pada tahun fiskal ini dan mencapai 3 persen dalam 12 bulan berikutnya jika harga minyak tetap tinggi dan yen melemah signifikan.

Pecahnya perang Iran juga memicu penurunan paling tajam dalam kepercayaan konsumen Jepang pada Maret dalam hampir enam tahun terakhir, dan indeks tersebut kembali melemah pada April. Di sisi lain, prospek para pelaku usaha di Jepang merosot pada Maret ke level terendah sejak pandemi.

Di saat yang sama, perhitungan awal pada Maret dari konfederasi serikat pekerja terbesar Jepang, Rengo, menunjukkan pekerja di perusahaan-perusahaan besar berhasil memperoleh kenaikan upah sekitar 5 persen untuk tahun ketiga berturut-turut.

Perdana Menteri Sanae Takaichi telah meluncurkan berbagai subsidi guna meredam dampak inflasi, termasuk bantuan untuk menekan tarif utilitas pada awal tahun. Setelah harga bensin melonjak ke rekor tertinggi 190,8 yen per liter pada Maret, pemerintah memperkenalkan subsidi untuk menjaga harga tetap di kisaran 170 yen per liter.

Menurut Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa, meski langkah-langkah tersebut dinilai cukup membantu rumah tangga menghadapi tingginya harga energi, konsumen diperkirakan mulai merasakan dampak perang terhadap tagihan listrik dan gas alam sekitar Juni. Hingga kini, pemerintahan Takaichi masih menilai belum diperlukan anggaran tambahan baru untuk mendukung perekonomian.