Kumparan Logo

Pengertian Ekonomi Hijau beserta Potensi dan Tantangannya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas melakukan pengecekan termal kabel panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 MWp yang dioperasikan Vena Energy di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (15/7/2024).  Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melakukan pengecekan termal kabel panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 MWp yang dioperasikan Vena Energy di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (15/7/2024). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO

Konsep ekonomi hijau terus digaungkan pemerintah demi mewujudkan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Konsep ini berfokus pada pemanfaatan sumber daya alam secara bijak, sehingga dapat mengurangi efek gas rumah kaca.

Dilihat dari asal-usulnya, istilah ekonomi hijau ternyata muncul pertama kali pada tahun 1989. Kala itu, sekelompok ekonom lingkungan di Inggris mengeluarkan laporan berjudul “Blueprint for a Green Economy” untuk memberikan masukan kepada pemerintah Inggris.

Lalu, gagasan disusul oleh United Nations Environment Programme (UNEP) yang mengeluarkan ide tentang “green stimulus packages”. Lewat ide ini, UNEP melakukan identifikasi bidang tertentu untuk memulai konsep Ekonomi Hijau.

Mulai saat itu, konsep “Ekonomi Hijau” pun terus berkembang seiring waktu. Agar lebih paham, simak penjelasan tentang ekonomi hijau selengkapnya dalam artikel berikut.

Pengertian Ekonomi Hijau

Ilustrasi ekonomi hijau. Foto: Pixabay

Sejak dirumuskan pertama kali, konsep ekonomi hijau terus mengalami perkembangan. Di tahun 2012, The World Bank mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sebuah sistem ekonomi yang ditujukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Ekonomi hijau diklaim mampu meningkatkan penggunaan sumber daya secara efisien sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menekankan pada sistem ekonomi yang ramah lingkungan.

Di tahun yang sama, The Global Green Growth Institute membagikan perspektif yang berbeda soal ekonomi hijau. Katanya, sistem ekonomi ini mengedepankan unsur keberlanjutan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apabila diimplementasikan secara benar, ekonomi hijau dapat mengurangi tingkat kemiskinan sekaligus menjaga lingkungan sekitar. Harapannya, pembangunan ekonomi hijau dapat memberikan manfaat bagi semua lapisan masyarakat.

Potensi dan Tantangan Ekonomi Hijau

Ilustrasi ekonomi hijau. Foto: Pixabay

Tentu ada peluang dan hambatan yang kerap dihadapi ketika mengimplementasikan konsep ekonomi hijau. Berikut uraiannya yang dirangkum dari buku Green Economy susunan Ryan Nugraha, dkk.:

1. Peluang

  • Peningkatan efisiensi dan penghematan biaya: Dengan menerapkan teknologi ramah lingkugan, pemerintah bisa mengurangi konsumsi energi dan sumber daya. Sehingga, pemerintah bisa menghemat biaya jangka panjang.

  • Meningkatkan reputasi brand: Perusahaan yang menerapkan konsep ekonomi hijau biasanya lebih dilirik oleh konsumen. Misalnya dengan mengutamakan bahan-bahan ramah lingkungan, meminimalisasi limbah, dan lain-lain.

  • Inovasi layanan: Ekonomi hijau mendorong inovasi, memungkinkan perusahaan mengembangkan produk atau layanan baru yang berkelanjutan.

2. Tantangan

  • Biaya awal tinggi: Transisi ke teknologi hijau sering kali memerlukan investasi awal yang tingg. Misalnya pemasangan panel surya atau pembelian kendaraan listrik untuk operasional.

  • Keterbatasan akses terhadap sumber daya: Sebagian pihak mungkin akan kesulitan mengakses teknologi hijau terbaru atau sumber daya untuk pelatihan.

  • Kompleksitas regulasi dan standar: Pemerintah dan pihak swasta harus memperhatikan regulasi yang jelas agar tidak muncul kendala di kemudian hari.

Ragam konten berkualitas dan inklusif tentang inisiatif individu, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk mendorong terciptanya bumi berkelanjutan hanya di kumparan.com/greeninitiative

(MSD)