Kumparan Logo

Pengiriman Paket Belanja Online via PT Pos Masih Sedikit

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono. (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono. (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)

Segala hal yang berbasis online kini tengah menjadi primadona.Tak terkecuali pada bisnis belanja online (e-commerce) yang menjamur dalam berbagai lini di masa kini.

PT Pos Indonesia (Persero) sebagai perusahaan plat merah yang telah berumur 272 tahun pun tak elak menghadapinya. Di satu sisi, perseroan membawa protokeler 'mapan' bisnis lama yang telah ratusan tahun dijalankan. Namun, di sisi lainnya lagi ia harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan agar tetap diminati.

Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsih Wahyu Setijono menyampaikan ada tantangan dan peluang tersendiri yang mesti dihadapi terkait masifnya e-commerce ini.

Gilarsih mengungkap, tantangan pertama muncul dari citra Pos Indonesia sendiri yang masih berkutat pada bisnis surat. Imbasnya, Pos Indonesia baru kecipratan berkah market place pada 2015 dengan perlahan mempromosikan diri ke berbagai toko online seperti Matahari Mall, Lazada, Shopee, Bukalapak, dan sebagainya.

"Factual kalau PT Pos belum banyak dikenal di dunia e-commerce karena orang merasa, ah Pos kan surat. Lalu Pos kayaknya lambat deh, kan BUMN. Ini yang menjadi challenge kita untuk men-transform supaya kita bisa memenuhi kebutuhan digital ekonomi kita," katanya di Gedung Pos Ibu Kota, Jakarta Pusat, Kamis (22/11).

Di sisi lain, Pos Indonesia juga masih perlu mempersiapkan berbagai infrastuktur penunjang e-commerce. Mengingat, sarana prasarana yang dimiliki Pos Indonesia selama ini adalah untuk mengantar surat. Sementara, e-commerce menuntut Pos Indonesia menyediakan fasilitas yang lebih memadai untuk mengantar barang.

Ditambah lagi, mindset kurir yang juga masih berpatokan pada berkirim surat.

Bantuan PT Pos untuk korban  gempa lombok (Foto: dok. BNPB)
zoom-in-whitePerbesar
Bantuan PT Pos untuk korban gempa lombok (Foto: dok. BNPB)

"Otomatis kurir surat menjadi kurir barang, bukannya tanpa masalah karena kurir surat berpikirnya bukan seperti kurir lain yang dari awal kirimnya sudah dalam bentuk parsel bukan surat," imbuhnya.

Kendati demikian, Ia tidak berkecil hati dan memilih nekat ketika itu. Dengan terus berbenah melakukan penyesuaian sarana prasarana, pihaknya mantap menyambut e-commerce.

"Barang kan harus tetap ada yang harus mengirimkan, uang bisa dikirim secara elektronik tapi barang kan masih belum bisa, di situ lah Pos Indonesia menemukan celah untuk merelevankan diri kembali (menyediakan kurir barang)," kata dia.

Lebih lanjut, Ia menyebut transaksi e-commerce di Indonesia masih begitu menggiurkan dan sayang jika terlewatkan.

"Ada transaksi e-commerce 2 juta transaksi per hari yang berbentuk barang. Pos Indonesia baru belasan persen dari 2 jutaan transaksi tadi, kita akan terus mengoptimalkan kemampuan kita," ujarnya.

Salah satu langkah yang ditempuh Pos Indonesia ialah melakukan efisiensi dengan adanya mesin pemilah otomatis untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan.

"Kita lah yang pertama menggunakan shorting mesin otomatis kita di lantai 1 itu ada laboratori," katanya.

Tumpukan paket belanja online (Foto: Feby Dwi Sutanto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan paket belanja online (Foto: Feby Dwi Sutanto/kumparan)

Tak hanya itu, transportasi pengiriman juga kian tingkatkan. Jika dulu masih bergantung dengan transportasi publik untuk pengiriman yang imbasnya bisa molor secara waktu. Kini Pos Indonesia memiliki transportasi sendiri yang bisa dimonitori oleh pelanggan.

"Teknologi depending dengan diri sendiri, setidaknya sampai akhir kita harus bisa menunjukkan kepada pelanggan kita posisi barang itu ada dimana di last miles-nya sudah mendekati rumahnya belum secara teknologi sudah bisa kita lakukan. Hanya memang belum terintegrasi dalam sebuah platform masih station-station baru last miles-nya kita tahu barangnya," ujar dia.

Ke depan, Pos Indonesia juga tak akan menutup diri dengan bisnis model kolaboratif dengan berbagai pihak. Ia mencontohkan konsep yang diterapkan GOJEK yang mempunyai mitra yang dibayarkan berdasarkan performanya dengan fasilitas yang dimiliki sendiri.

Tak terkecuali, menangkap peluang-peluang yang ada nantinya. Seperti, kerja sama Pos Indonesia dengan berbagai BUMN yang ada dalam pengiriman logistik.

"Ya berkat bantuan juga bisnis-bisnis di sekitar BUMN, BUMN sendiri itu spending logistiknya itu Rp 90-100 triliun per tahun kan, jadi kita fokus pembangunan kompetensi, Poslog, sehingga kita bisa menjadi partner-nya BUMN karya, partner-nya Antam, membantu mereka menekan biaya logistik tapi kita sendiri mendapatkan bisnis," tutupnya.

Sebagai informasi, saat ini Pos Indonesia didukung oleh sekitar 4.000 titik jaringan kantor pos dan 28.000 agen pos yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.