Pengunjung Mal Didominasi Kelas Menengah, Kalangan Atas Hanya 5 Persen
·waktu baca 2 menit

Pengusaha membeberkan mayoritas pengunjung pusat perbelanjaan modern atau mal adalah konsumen dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengatakan persentase kalangan atas dalam komposisi pengunjung pusat perbelanjaan di Indonesia hanya sebesar 5 persen.
“Karena memang pusat perbelanjaan di Indonesia itu didominasi oleh kelas menengah bawah, kelas atas itu hanya 5 persen,” kata Alphon dalam gelaran Gerak Bersama 100 UMKM Lisensi Merek Lokal di Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7).
Dia menyoroti mal-mal yang berada di pusat Jakarta misalnya di Jalan Sudirman-Thamrin seperti Plaza Indonesia, Senayan City, dan Plaza Senayan yang biasanya didatangi oleh kalangan menengah ke atas itu hanya merepresentasikan 5 persen dari pengunjung pusat perbelanjaan di Indonesia.
“35 persen itu kelas menengah, 60 persen itu adalah kelas bawah. Jadi sebetulnya, Industri usaha pusat perbelanjaan Indonesia, 95 persen didominasi oleh kelas menengah bawah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Alphon mengatakan alasan kelas menengah atas cenderung menahan belanja adalah langkah kehati-hatian di tengah situasi perekonomian yang tidak menentu. Dengan demikian kalangan ekonomi kelas ini lebih memilih investasi.
Alphon menyoroti kondisi nilai tukar rupiah juga harga emas saat ini yang dinilai fluktuatif membuat kelas menengah menekan belanja.
“Kalau yang di kelas menengah atas penyebabnya misalkan mereka lebih kehati-hatian dalam berbelanja. Apalagi kalau ada pengaruh makroekonomi, mikroekonomi dari global. Sehingga mereka belanja atau investasi,” tutur Alphon.
Pada saat yang sama, kalangan ekonomi kelas menengah ke bawah juga tengah mengalami penurunan daya beli sejak 2024 lalu. Alphon melihat pemerintah perlu menggelontorkan insentif yang bersifat langsung seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT).
“Stimulus ataupun insentif yang diberikan oleh pemerintah itu harus yang sifatnya langsung. Salah satunya adalah BLT (bantuan langsung tunai). Itu saya kira adalah langkah yang cukup tepat untuk bisa serta merta menaikkan daya beli masyarakat,” jelasnya.
