Kumparan Logo

Pengusaha Harap Menkeu Purbaya Bisa Perkuat Fiskal-Pembiayaan Ekspor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti pelantikan menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/9/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti pelantikan menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/9/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Para pengusaha padat karya merespons dilantiknya Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), menggantikan Sri Mulyani. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, menilai sosok ekonom teknokrat sekaligus alumni ITB tersebut membawa harapan besar bagi perbaikan kebijakan fiskal hingga pembiayaan Indonesia, khususnya dalam mendukung sektor industri padat karya yang berorientasi ekspor.

“Bagi kami, penunjukan Pak Purbaya bukan hanya soal pergantian menteri, tetapi momentum memperkuat fondasi fiskal agar Indonesia mampu bersaing di pasar global. Beliau memiliki rekam jejak yang kuat di bidang makroekonomi, dan kami optimistis komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha akan lebih erat,” ujar Sobur dalam keterangannya, Selasa (9/9).

HIMKI menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri mebel dan kerajinan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat, tekanan geopolitik akibat dinamika BRICS, hingga persaingan ketat dengan Vietnam dan Malaysia.

“Tarif ekspor yang lebih tinggi dibanding pesaing jelas membuat posisi Indonesia kurang kompetitif. Ditambah ketidakpastian global, banyak eksportir yang tertekan arus kasnya karena pembiayaan ekspor masih terbatas,” tegas Sobur.

instagram embed

Dalam konteks tersebut, HIMKI menekankan perlunya penguatan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank Indonesia, Special Mission Vehicle yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurut Sobur, LPEI harus diperbesar kapasitas pendanaannya, baik untuk pembiayaan langsung, penjaminan, maupun asuransi ekspor.

“Sebagian besar eksportir kita adalah IKM. Mereka punya produk bagus, buyer siap, tapi terkendala modal kerja. Kalau LPEI diperbesar dan dipermudah, IKM bisa melompat jauh. Inilah bentuk keberpihakan fiskal yang kami harapkan dari Menkeu baru,” ujarnya.

Sobur menambahkan, akses pembiayaan murah dan cepat akan menjadi game changer bagi daya saing industri padat karya. “Kalau Vietnam bisa menopang industri furniturnya dengan dukungan fiskal kuat, Indonesia tidak boleh kalah. LPEI harus jadi ujung tombak,” katanya.

HIMKI optimistis dengan kepemimpinan Menkeu Purbaya, pemerintah akan menempatkan industri mebel dan kerajinan sebagai sektor strategis ekspor nonmigas. HIMKI menargetkan ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai USD 6 miliar pada 2030 dan USD 10 miliar pada 2050.

“Kami siap bersinergi dengan pemerintah. Kunci keberhasilan ada pada kepastian fiskal, insentif hilirisasi, dan pembiayaan ekspor yang kuat. Dengan itu, jutaan tenaga kerja di sektor ini bisa terlindungi dan Indonesia bisa menjadi basis produksi global,” tambahnya.