Pengusaha Hotel Tak Harap Cuan Banyak dari Long Weekend Imlek

Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) tak berharap banyak pada liburan imlek yang jatuh pada hari ini, Jumat 12 Februari atau bertepatan pada akhir pekan. Wakil Ketua Umum PHRI, Maulana Yusran mengatakan, liburan imlek tidak akan mendongkrak tingkat keterisian hotel secara signifikan. Menurutnya, saat ini wisatawan masih ragu untuk memesan tiket karena trauma dengan kebijakan mendadak dari pemerintah.
"Masalahnya kita ada kendala terhadap bookingan last minute. Karena konsumen ragu nanti ada perubahan (kebijakan) lagi,” jelasnya kepada kumparan, Rabu (10/2).
Selain itu, persyaratan tertentu membuat biaya perjalanan makin tinggi. Hal ini juga mendorong wisatawan enggan melakukan perjalanan. “Ke Bali aja sekarang ada PCR Antigen 1x24 jam, lebih ketat,” jelasnya.
Pelaku usaha perhotelan berkaca pada situasi libur akhir tahun lalu yang sepi pengunjung karena kebijakan pemerintah yang mendadak dan juga persyaratan yang membuat ongkos liburan makin tinggi.
Meski demikian, beberapa hotel yang diperkirakan akan mengalami kenaikan sekitar 20 persen. Hotel-hotel ini khususnya berada di Pulau Jawa yang mudah diakses menggunakan mobil pribadi. Namun untuk hotel-hotel di daerah yang memungkinkan orang untuk menggunakan transportasi udara akan sepi. “Kalau kita lihat reservasi enggak seberapa, enggak keliatan gejolaknya,” tutup Maulana.
Akibat pandemi COVID-19, tingkat hunian hotel memang menjadi sangat rendah. Di Jawa Barat, pada awal tahun 2021 ini hanya 10 persen dari total kapasitas hotel yang terisi. Akibat dampak pandemi yang berkepanjangan ini, PHRI Jawa Barat menyebut sudah ratusan hotel di wilayahnya yang bangkrut.
Ketua PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan rinci terkait jumlah hotel yang bangkrut tersebut. Namun, menurutnya ratusan hotel di Jawa Barat yang bangkrut itu sudah tidak beroperasi lagi.
"Yang jelas yang sudah tutup dan belum buka lagi sudah banyak, terpuruk. Ini kan sudah melebih Januari memasuki Februari COVID-19 belum pulih," kata Herman di Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/2).
Menurutnya hotel yang paling banyak mengalami kebangkrutan yakni di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat. Karena, kata dia, wilayah itu yang paling terdampak ketika kunjungan wisatawan menurun.
“Kota Bandung cukup banyak (hotel bangkrut), kayaknya gitu,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung mencatat pada masa penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) angka okupansi hotel di Kota Bandung hanya mencapai 10 hingga 20 persen.
Sebelum itu, pada akhir tahun okupansi hotel di Kota Bandung masih berada di angka 40 persen. Namun Kepala Disbudpar Kota Bandung Dewi Kenny Kaniasari menyebut penurunan okupansi tersebut masih terbilang wajar.
"Wajar karena tidak hanya di Kota Bandung saja, PSBB ini kan Jawa-Bali. Mungkin orang bepergian juga berkurang kembali," kata Kenny.
Keadaan yang sama sulitnya juga dihadapai perhotelan di Yogyakarta. Puluhan hotel mulai berguguran dan terancam bangkrut. Ngos-ngosan menanggung beban operasional di tengah sepinya okupansi, bahkan membuat pengusaha mulai menjual hotel dan restoran mereka via online.
Ketua PHRI Yogyakarta, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan saat ini sudah 50 hotel dan restoran yang tutup lantaran tak kuat menanggung beban operasional. Kondisi itu, kata Deddy, semakin sulit lantaran mereka memang sudah berupaya menambal biaya operasional sejak 10 tahun terakhir.
"171 hotel dan resto masih beroperasi terengah-engah. Yang 100-an memang memutuskan tidak beroperasi tapi menunggu COVID-19 ini. Yang 50 menyatakan mati," katanya kepada kumparan, Rabu (3/2).
Berdasarkan hasil penelusuran PHRI Yogyakarta, diketahui sejumlah hotel sudah mulai ditawarkan lewat marketplace. Ini dilakukan untuk mendapatkan dana membayar gaji hingga pesangon karyawan.
"Mereka menyatakan sudah tidak kuat karena beban operasionalnya tinggi. Biaya disinfektan harus continue, PLN, gaji karyawan, BPJS, pajak. Ini yang memberatkan mereka, jalan satu-satunya ya menawarkan," jelasnya.
Tak cuma hotel dan restoran, ribuan kos-kosan di Yogyakarta juga sudah mulai ditawarkan via online. Bisnis penyewaan kamar ini dijual dengan harga dari Rp 1 miliar sampai Rp 12 miliar.
Kondisi ini terjadi lantaran kian tergerusnya tingkat hunian kos. Sebagian mahasiswa yang menempuh pendidikan di sana, juga telah lama pulang ke daerah masing-masing.
