Kumparan Logo

Pengusaha Mau Alihkan Pasar Ekspor Sawit ke Afrika Imbas Konflik Israel-Iran

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perkebunan sawit. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perkebunan sawit. Foto: Shutterstock

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan hingga saat ini konflik antara Iran dan Israel belum berdampak langsung terhadap kinerja ekspor minyak sawit Indonesia.

Namun, ada potensi risiko yang tetap diwaspadai, khususnya jika ketegangan geopolitik ini memicu krisis ekonomi global.

“Sampai saat ini belum kelihatan ada dampaknya (konflik Iran-Israel) terhadap ekspor minyak sawit Indonesia,” ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono kepada kumparan, Rabu (25/6).

Meski dampak langsung belum terasa, GAPKI menilai krisis ekonomi global yang mungkin dipicu oleh konflik tersebut bisa menekan permintaan sawit di pasar internasional.

“Yang dikhawatirkan kalau terjadi krisis ekonomi global, ini akan berpengaruh terhadap ekonomi dunia, artinya negara-negara importir pun akan terkena dampaknya dan akan berakibat terhadap penurunan permintaan,” jelas Eddy.

GAPKI mencatat, kontribusi pasar Timur Tengah terhadap ekspor sawit Indonesia memang belum terlalu besar.

Kata dia, kawasan ini menunjukkan tren pertumbuhan. Pada 2023, total impor sawit negara-negara Timur Tengah dari Indonesia tercatat sebesar 1,4 juta ton, naik menjadi 1,6 juta ton pada 2024.

“Untuk ekspor atau pasar minyak sawit Indonesia ke Timur Tengah belum terlalu besar, tetapi sudah ada peningkatan sedikit. Apabila terjadi masalah di Timur Tengah, ekspor dialihkan ke Afrika atau ke Asia Tengah, tetapi itu juga tidak mudah, butuh waktu juga,” kata Eddy.

Tidak Mudah

Saat ditanya soal rencana jangka pendek terkait pengalihan pasar ekspor, Eddy menyebut upaya diversifikasi sudah dilakukan sejak sebelum konflik ini terjadi.

“Sebelum terjadi perang pun kita sudah terus melakukan diversifikasi pasar ke pasar non tradisional, hanya ini memang butuh waktu, tidak bisa hanya hitungan minggu atau bulan,” ujarnya.

GAPKI menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi geopolitik global, sembari memperkuat penetrasi ke pasar-pasar alternatif seperti Afrika dan Asia Tengah sebagai strategi mitigasi risiko.

Sebelumnya, kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia turun 3,08 persen sepanjang Januari-April 2025. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) hingga April 2025, total ekspor CPO turun dari 9,715 ribu ton pada periode yang sama tahun lalu menjadi 9,416 ribu ton tahun ini.

Penurunan tertinggi tercatat untuk pasar India yang anjlok 1,055 ribu ton atau setara 68 persen, diikuti Uni Eropa turun 818 ribu ton (-62 persen), China turun 746 ribu ton (-62 persen), dan Pakistan 385 ribu ton (-42 persen).

Meski volume ekspor turun, nilai ekspor Januari-April 2025 justru mengalami kenaikan signifikan sebesar 30,2 persen.

Total nilai ekspor naik dari USD 8,307 miliar pada 2024 menjadi USD 10,818 miliar pada tahun ini. Kenaikan ini terdorong oleh membaiknya harga rata-rata CPO di pasar global.

instagram embed