Kumparan Logo

Pengusaha Tekstil RI Siap Produksi Masker dan APD untuk Tangani Corona

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Getty Images

Para pengusaha tekstil nasional dari hulu ke hilir menyatakan siap memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) dan masker yang dibutuhkan tenaga medis dalam menangani virus corona. Para pengusaha ini tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSFYFI).

Wakil Ketua Umum API yang juga Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto mengatakan para pelaku usaha garmen siap menyuplai masker dan APD karena kepedulian mereka. Terlebih, banyak negara tujuan ekspor yang lockdown, jadi ada pengiriman barang mereka yang tertunda akibat virus corona.

“Karena itu banyak hal yang dilakukan member ekspor salah sautnya bersama mesti melihat ketahanan nasional dalam hal ini API bersama member bisa supply kembali APD atau masker dalam jumlah besar ke negara kita sendiri,” kata Anne dalam diskusi online, Senin (23/3).

Anne mengungkapkan masker yang bakal diproduksi adalah masker berbahan kain. Kesiapan para pemain tekstil untuk produksi masker dan APD karena bahan baku di dalam negeri cukup banyak. Dari banyaknya komposisi yang dibutuhkan, hanya beberapa bahan baku yang perlu diimpor.

Seorang pekerja menggunakan masker menyelesaikan produksi kaus kaki di pabrik daerah Deqing Huzhou, Zhejiang, China. Foto: China Daily / via REUTERS

Anne menekankan untuk produksi masker dan APD untuk nonmedis (nonmedical grade), mereka bisa lakukan saat ini juga. Sementara untuk yang sesuai standar medis, harus mendapatkan izin Kementerian Kesehatan lebih dulu.

Karena itu, saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan BNPB dan Kementerian Kesehatan agar mempercepat izin atau sertifikasi masker dan ADP medis.

“Apakah bisa kita dipercepat untuk sertifikasi, at least waterproof diperlukan, antivirus diperlukan untuk gugus depan COVID-19, tidak available medical grade tapi ini better than dari hanya sekadar jas hujan. Kalau dibilang apakah kami ready, secara non-medical grade definetely, enggak usah omong ready kami saja sudah produksi demikian,” katanya.

Anne mengatakan bahwa produk yang mereka buat khususnya APD merupakan barang bagus yang telah teruji saat pembuatannya. Salah satunya adalah ada produk serupa APD yang sudah diuji coba untuk dipakai hingga ke Pegunungan Everest.

“Kita sendiri kan punya laboratorium technology, bahan yang dipakai untuk APD itu sudah test untuk dipakai hikers dunia sampai ke Everest. Kalau merek biasa hidup anti air, anti angin, berarti harusnya ini (produk mereka) diharapkan virus corona enggak tembus, kita terpaksa pakai logika begitu,” jelasnya.

Meski begitu, Anne memahami saat ini pemerintah masih sibuk mengurusi hal lain dalam penanganan virus corona seperti pembangunan rumah sakit. Anne mengatakan, para pengusaha juga bersedia menjadikan klinik yang ada di pabrik difungsikan 100 persen bagi penanganan virus corona agar bisa menolong pekerja mereka yang positif atau harus mengisolasi diri.

Ketua Umum APSYFI sekaligus Direktur Utama PT Asia Pacific Fibers Tbk, V Ravi Shankar mengatakan ada banyak pilihan untuk memproduksi masker.

Akan tetapi, pihaknya kekurangan bahan baku masker medis. Karena itu, dia minta pemerintah mempermudah impor bahan baku untuk mereka dalam kondisi saat ini, bukannya malah buka keran impor masker dan APD jadi.

“Ada banyak opsi soal masker. Tapi yang medical ini memang bahan bakunya shortage. Tapi yang saya confirm ada beberapa yang mampu kita produksi dari hulu misalnya jadi coating dan lainnya,” ujarnya.

Direktur Utama VC Blessing, Chandra Setiawan mengatakan, karena pemerintah masih sibuk mengurusi penanganan virus corona dan sulit memberi sertifikasi masker dan APD dalam negeri, diharapkan bisa membuat aturan darurat agar bisa dipercepat.

“Kalau saat ini kita minta izin, pemerintah juga lagi sibuk. Mungkin ada aturan saat darurat. Masyarakat harus tau ini tindakan preventif yang kita buat, ada space khusus untuk meredam sementara. Sebab ini efektivitasnya tidak seperti medical grade,” ujar dia.