Kumparan Logo

Pengusaha Yakin Peningkatan PLTP Tak Terkendala Investasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) memulai operasi komersial Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Dok. Medco Energi
zoom-in-whitePerbesar
PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) memulai operasi komersial Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Dok. Medco Energi

Pemerintah menargetkan produksi listrik dari tenaga geothermal atau panas bumi bisa menjadi yang terbesar di dunia pada 2029, dengan kapasitas 3,8 gigawatt (GW).

CEO Supreme Energy Supramu Santosa, meyakini target tersebut bisa berjalan dan tak terkendala masalah investasi. Ia mengungkap ada investor dari Jepang yang minat berinvestasi di sektor geothermal hingga miliaran dolar.

“Salah satu perusahaan gede di Jepang, saya ketemu chairmannya, dia bilang itu mereka punya dana USD 3 miliar untuk mencari proyek (geothermal) di Indonesia. Jadi investment is no problem,” kata Supramu dalam Media Gathering Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 di Habitat, Jakarta Selatan pada Kamis (22/5).

Terlebih lagi jika tensi politik, hukum dan keamanan dalam negeri dalam kondisi bagus. Dengan begitu investor akan datang dengan sendirinya.

“Financing bagi kita no issue. Tidak masalah kita. Kita akan selalu dapat financing selama proyeknya itu ekonominya benar,” ujarnya.

CEO Supreme Energy Supramu Santosa. Foto: Argya Maheswara/kumparan

Langkah lain yang bisa dilakukan untuk menarik banyak investor ke sektor geothermal adalah kemudahan regulasi. Selain itu, Supramu juga menyoroti perlunya penurunan pajak untuk penjualan listrik dari IPP (Independent Power Producer) ke PT PLN (Persero).

“Yang bagi saya yang bisa dilakukan adalah mengurangi government tax ya. Mengurangi pajak-pajak pemerintah itu dikurangi sehingga bisa membantu keekonomian. Isunya regulasi untuk mencapai keekonomian,” kata Supramu.

Nantinya, jika pajak tersebut bisa diturunkan, Supramu mengungkap akan banyak perusahaan luar negeri yang berminat untuk berinvestasi di sektor pembangkit listrik listrik geothermal di Indonesia.

“Banyak sekali perusahaan luar negeri itu yang ingin menjadi partner kita untuk mengerjakan geothermal di Indonesia. Tapi kan masalahnya adalah keekonomian, itu saja masalah. Keekonomian itu masalah yang paling pokok,” ujarnya.

Supramo menjelaskan, opsi pengurangan pajak untuk menjual listrik ke PLN adalah opsi menarik bagi para IPP merupakan opsi yang bisa dipilih alih-alih menaikkan harga listrik.

Ketua Pelaksana IIGCE 2025 Ismoyo Agro dalam Media Gathering Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 di Habitat, Jakarta Selatan pada Kamis (22/5). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Terkait potensi dan kebutuhan investasi, Ismoyo Argo, yang merupakan Ketua Pelaksana IIGCE 2025 mengungkap potensi listrik dari geothermal di Indonesia mencapai 24 gigawatt (GW). Namun saat ini pemanfaatannya baru mencapai 12 persen. Ke depan, Indonesia membutuhkan investasi hampir USD 5 juta untuk setiap megawatt (MW) kapasitas produksi listrik geothermal.

“Masih ada banyak tantangan-tantangan di masalah kebijakan ya. Kalau mau menarik investasi untuk 24 gigawatt itu, kali USD 5 juta per megawattnya,” kata Ismoyo.

Ismoyo mengungkap nantinya penyelenggaraan IIGCE 2025 pada 17-19 September di Jakarta International Convention Center (JICC) menurutnya ditujukan agar dapat menarik investor untuk berinvestasi pada sektor geothermal di Indonesia.

IIGCE 2025 akan menargetkan 5.000 partisipan dari 30 negara untuk hadir dalam acara tersebut. Ismoyo mengungkap pelaksanaan IIGCE 2035 bisa menjadi target untuk menyelesaikan masalah-masalah regulasi yang bisa membuat investor lebih nyaman.

“IIGCE ini jadi target, semua perbaikan-perbaikan ini harus selesai pada saat sebelum IIGCE. Apakah pengembang itu sudah merasa nyaman, investor sudah merasa nyaman di Indonesia dengan adanya perubahan kualitas atau belum? Kita monitor terus,” ujarnya.