Penuhi Kebutuhan Kapas RI, Dubes Ajak Pengusaha Investasi di Sudan

Industri tekstil nasional masih sangat tergantung pada kapas impor, akibat tanaman tersebut tidak dapat tumbuh baik di iklim Indonesia. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebutkan, 100% kebutuhan kapas nasional masih impor, atau pada 2017 lalu mencapai 900 ribu ton.
Terkait dengan tingginya kebutuhan kapas industri tekstil dalam negeri, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea, Rossalis Rusman Adenan mengajak pengusaha nasional untuk investasi kebun kapas di Sudan.
"Terutama investasi yang bisa menghasilkan raw material yang diperlakukan untuk industri kita. Pak Benny (Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno) kan sudah lama berkecimpung di industri tekstil saya kira industri kapas di sana sangat potensial untuk dikembangkan," kata Rusman dalam acara Dialog bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, di Jakarta, Senin (5/3).
Menurutnya, kalau pun kapas untuk Indonesia diimpor dari Sudan, kebunnya merupakan milik pengusaha Indonesia sendiri. Sudan yang berada di timur laut Benua Afrika, memiliki iklim yang cocok untuk bertanam kapas.

Kapas di Sudan pernah menjadi komoditas unggulan, dengan produksi lebih dari 1 juta ton pada 1970-an. Namun belakangan produksi kapas sudan terus menurun, hingga hanya 150-170 ribu ton per tahun.
"Kita harapkan komoditas yang diperdagangkan (kedua negara) akan semakin meningkat baik volume, nilai maupun jenis komoditasnya," ujar Rusman. Dia mengungkapkan, nilai perdagangan RI-Sudan saat ini hanya USD 130 juta. Padahal ekspor Indonesia ke negara itu pernah mencapai USD 400 juta.
Selain kapas, Rusman menyebutkan, Sudan juga punya komoditas unggulan lain seperti perminyakan, pertambangan emas, dan juga pertanian dan peternakan. Sebab, Sudan memiliki iklim dan daerah yang baik untuk mengembangkan peternakan. "Peternakan di Sudan mengekspor kebutuhan ternak ke Timur Tengah, khususnya saat Idul Adha.”
