Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Penurunan Jumlah Pemudik 2025 Jadi Lampu Kuning Ekonomi RI Kuartal I 2025
31 Maret 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut hingga pekan ketiga Maret 2025, inflasi diperkirakan tumbuh melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Sampai pekan kedua, kalau dilihat memang tumbuh. Tapi pertumbuhannya ini tidak secepat di periode yang sama tahun lalu," ujar Asmo kepada kumparan, Kamis (13/3).
Asmo menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah masyarakat yang lebih berhati-hati untuk berbelanja. Apalagi saat ini PHK di industri manufaktur terus terjadi. Untuk itu, pemberian insentif seperti diskon tiket pesawat diharapkan ampuh mendorong daya beli di kuartal I 2025.
"Jadi pemerintah mesti ngapain? Program diskon tiket, macam-macam diskon belanja, salah satu cara mendongkrak di bulan puasa ini, seharusnya bisa. Tapi paling nggak positif growth di kuartal I inilah," katanya.
Pada kuartal I 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen (yoy). Dari sisi pengeluaran, penyumbang utama ekonomi RI pada kuartal I tahun lalu adalah dari konsumsi rumah tangga, belanja pemilu, hingga momen Lebaran. Secara rinci, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,93 persen ke pertumbuhan ekonomi kuartal I 2024, tumbuh 4,91 persen (yoy).
ADVERTISEMENT
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik Lebaran 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari penduduk Indonesia, turun 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.
Ekonom sekaligus Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, mengatakan salah satu penyebab jumlah pemudik lebaran bisa anjlok 24 persen tahun ini karena melemahnya daya beli.
"Faktor pemicunya tentu karena daya beli yang melemah. Masyarakat banyak yang pendapatannya turun, bahkan juga ter-PHK, sehingga ada yang sebagian kemudian tidak memutuskan untuk mudik karena mungkin keterbatasan dari anggaran," jelasnya kepada kumparan, Minggu (30/3).
Eko melanjutkan, anggaran untuk mudik tidak hanya sekadar biaya transportasi, namun masyarakat biasanya harus mengeluarkan pundi-pundi uang lebih untuk berbelanja di kampung halamannya.
Sementara itu, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengkaji masifnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di dua bulan awal tahun 2025 menekan perekonomian, tidak terkecuali saat momentum Ramadan dan Idul Fitri.
ADVERTISEMENT
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat ada 18.610 orang yang terkena PHK dari Januari hingga Februari 2025. Jumlah tersebut naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.
Bahkan, jika mengacu data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sudah ada 60.000 buruh di-PHK dari 50 perusahaan. Kondisi tersebut membuat kinerja konsumsi melemah, dengan salah satu indikatornya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menyampaikan pada Januari 2025, terjadi penurunan IKK hingga 0,4 persen (month-to-month) dibandingkan IKK Desember 2024. Menurutnya, situasinya cukup anomali.
"Jika kita mengacu pada periode 2022 hingga 2024, biasanya terjadi kenaikan IKK di bulan Januari karena ada optimisme konsumen di awal tahun. Kondisi keyakinan konsumen melemah juga terjadi di bulan Februari 2025," ujarnya dalam keterangan tertulis.
ADVERTISEMENT
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%