Kumparan Logo

Penyaluran Kredit BNI Capai Rp 586,2 Triliun di 2020, Tumbuh 5,3 Persen

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bank BNI. Foto: Dok. Bank BNI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank BNI. Foto: Dok. Bank BNI

PT Bank Negara Indonesia atau BNI memastikan terus meningkatkan kinerjanya di tengah pandemi COVID-19. Direktur Keuangan BNI, Novita Widya Anggraini, kinerja perseroan dari kredit yang disalurkan di 2020 masih bisa tumbuh 5,3 persen.

“BNI dapat mengelola imbal hasil dari aset-aset pencetak pendapatan perseroan dengan sangat baik, yang tentunya ditopang oleh kredit yang disalurkan pada 2020 sebesar Rp 586,2 triliun atau tumbuh 5,3 persen year on year,” kata Novita saat konferensi pers secara virtual, Jumat (29/1).

Novita mengungkapkan BNI khususnya di kuartal IV 2020 berupaya mengoptimalkan komposisi aset dan liabilities. Sehingga pengelolaan dana perseroan dapat lebih efektif.

Novita menjelaskan di tahun 2020, BNI mampu menjaga NIM di level 4,5 persen melalui strategi manajemen biaya dana yang efektif.

“BNI mencatatkan biaya dana atau cost of fund yang terus mengalami perbaikan di setiap kuartalnya, terutama pada Kuartal IV 2020 yang berada pada level 2,0 persen atau membaik 60 basis poin dari kuartal sebelumnya, sehingga cost of fund pada akhir 2020 turun menjadi 2,6 persen dari 3,2 persen di 2019,” ujar Novita.

Lebih lanjut, Novita menerangkan di tengah perekonomian yang menantang ini perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income sebesar Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2 persen yoy.

Suasana Kantor Kas Bank BNI Beringharjo, masih beroperasi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

“Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0 persen yoy dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020,” ungkap Novita.

kumparan post embed

Novita menuturkan bila PPOP tersebut menambah ruang bagi BNI untuk memupuk pencadangan yang memadai dalam menghadapi tantangan perekonomian ke depan dan juga memberikan kekuatan untuk meminimalisir volatilitas keuntungan perseroan.

“Di mana pada tahun 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun disertai dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4 persen lebih besar dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 133,5 persen,” tutur Novita.