Kumparan Logo

Perang di Iran Masih Berlangsung, Industri Baja Lirik Pasar Eropa dan AS

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelepasan ekspor produk baja lapis PT Tata Metal Lestari. Dok: kumparan/Widya Islamiati
zoom-in-whitePerbesar
Pelepasan ekspor produk baja lapis PT Tata Metal Lestari. Dok: kumparan/Widya Islamiati

Industri baja kini fokus membidik pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) di tengah perang Iran dan berbagai hambatan dagang global. Ini salah satunya dilakukan PT Tata Metal Lestari (TML) yang hari ini melepas ekspor produk baja lapis ke Amerika Serikat (AS) dan Polandia di fasilitas produksi TML di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Produk yang dikirim meliputi baja lapis aluminium seng (BJLAS) bermerek Nexalume, baja lapis seng (BJLS) Nexium, serta baja lapis warna Nexcolor untuk pasar Amerika Serikat dan Polandia.

Vice President of Operations TML, Stephanus Koeswandi, mengatakan perusahaan sengaja memilih AS dan Eropa karena dinilai sebagai pasar paling sulit ditembus industri baja dunia.

“Kami memang memilih AS dan Eropa karena ini merupakan tujuan tersulit di dunia, dan tentu kalau kita bisa menembus pasar yang tersulit, maka pasar-pasar lain akan menjadi lebih mudah. Direncanakan fokus ke Uni Eropa pada tahun ini,” kata Stephanus usai gelaran Pelepasan Ekspor Baja TML ke Amerika Serikat dan Eropa di TML Plant Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (22/5).

Stephanus juga mengakui sejak pecah perang Amerika Serikat dan Iran tiga bulan yang lalu, nilai ekspor Tata Metal Lestari ke beberapa negara telah mencapai sekitar USD 3,6 juta.

“Memang ini turun dibandingkan tahun lalu kami pernah mengirimkan sebesar 10 ribu ton atau senilai dengan USD 10 juta saat itu di Pelabuhan Tanjung Priok tapi ini tentu dengan dinamika yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, kinerja ekspor industri baja dipengaruhi dinamika geopolitik dan banjir produk impor di kawasan Asia Tenggara. Selain tekanan banjir impor, industri baja juga menghadapi hambatan perdagangan lain seperti kebijakan ketat asal bahan baku dan standar emisi karbon di Amerika Serikat serta Uni Eropa.

Dia menjelaskan, di Eropa kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism CBAM atau kebijakan pajak karbon terhadap barang impor telah diberlakukan, dan baja Indonesia sebelumnya dikenakan default value emisi sebesar 8,2 ton CO2 per ton produk. Namun melalui verifikasi awal, TML disebut mampu menurunkan angka tersebut menjadi sekitar 2,2 ton CO2 per ton produk.

Kemudian di AS ada kebijakan tarif Section 232 dan anti circumvention. “Dengan menggunakan baja 100 persen dari Krakatau Steel kami bisa menembus dua pasal ini secara langsung,” jelasnya.

Vice President of Operations TML Stephanus Koeswandi dan Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio Krakatau Steel Hernowo usai gelaran Pelepasan Ekspor Baja TML ke Amerika Serikat dan Eropa di TML Plant Cikarang, Bekasi, Jumat (22/5/2026) Foto: Widya Islamiati/kumparan

Pelemahan Rupiah Jadi Hambatan Industri Baja

Stephanus juga mengatakan, fluktuasi nilai tukar menjadi kondisi yang cukup menantang bagi pelaku usaha karena menciptakan ketidakpastian.

Meski begitu, dia mengatakan pelaku industri tetap mengikuti arahan pemerintah untuk memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu sebelum meningkatkan ekspor.

Menurut dia, peningkatan ekspor juga penting untuk menambah pasokan devisa dan dolar Amerika Serikat (AS) ke dalam negeri.

“Kami sesuai dengan instruksi Bapak Presiden yaitu pertama kita pastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu kemudian yang kedua kita tingkatkan ekspor, supaya kita bisa bawa lagi dolar itu ke Indonesia supaya untuk meningkatkan devisa yang ada,” jelasnya.

instagram embed

BUMN Ekspor Diharapkan Bisa Bantu Industri

Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio Krakatau Steel, Hernowo, menilai pemerintah tengah serius menata tata kelola ekspor komoditas melalui skema ekspor sumber daya alam strategis terbaru yang hanya bisa dilakukan melalui BUMN ekspor sebagai entitas tunggal.

Hernowo mengatakan, industri baja menjadi salah satu sektor yang sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar karena sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor.

Menurut dia, industri baja juga belum bisa sepenuhnya menggunakan bahan baku lokal karena kadar kandungan material dalam negeri dinilai belum efisien untuk kebutuhan produksi tertentu.

Karena itu, Hernowo berharap penataan devisa hasil ekspor melalui badan ekspor baru dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung industri yang banyak bertransaksi dengan pasar global.

“Jadi pemerintah sepertinya ingin membantu (pengusaha basis ekspor) dengan cara menata supaya kalau kita ekspor, ini exchange rate foreign currency yang masuk bisa tertata dengan bagus ya, mudah-mudahan bisa memperkuat kembali nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Sebelumnya, BUMN ekspor tersebut dibentuk oleh Danantara Indonesia, sebagai anak usaha baru yang mengatur ekspor sumber daya alam yang mencakup batu bara, mineral, kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), dan komoditas strategis lainnya.

Berdasarkan dokumen yang diterima kumparan, kebijakan tersebut akan diatur dalam rancangan Peraturan Pemerintah (PP), seluruh ekspor komoditas sumber daya alam strategis hanya bisa melalui BUMN ekspor. Soal ini, sejumlah menteri menyebut kebijakan akan dijalankan bertahap mulai Juni 2026 dan baru akan sepenuhnya melalui BUMN pada Januari 2027.