Kumparan Logo

Perang Iran Bikin Harga Pakaian Makin Mahal, Biaya Produksi Melonjak

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pakaian Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pakaian Foto: Shutterstock

Perang di Timur Tengah mulai mengguncang rantai pasok industri pakaian global. Bukan hanya biaya energi dan pengiriman yang meningkat, harga bahan baku pakaian seperti poliester dan kapas juga melonjak.

Di pabrik Plummy Fashions di pinggiran Dhaka, Bangladesh, dampak kenaikan biaya mulai terasa. Salah satu area produksi sudah tidak beroperasi selama tiga bulan.

“Salah satu pembeli kami menunda pesanan poliester karena berharap harga akan turun,” kata Managing Director Plummy Fashions, Fazlul Hoque, seperti dikutip dari Bloomberg pada Minggu (13/9).

Perang Iran, kata dia, membuat biaya produksi pakaian semakin kompleks karena proses pembuatan pakaian biasanya melibatkan banyak negara dan puluhan tahapan. Kenaikan harga energi dan ongkos pengiriman terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan baku.

Ilustrasi Polyester. Foto: Shutterstock

Poliester, yang berasal dari bahan bakar fosil, mengalami kenaikan tajam. Sebelum konflik, menurut Fazlul, harga poliester diperdagangkan sekitar setengah dari harga kapas. Namun, lonjakan harga minyak mentah mendorong harga poliester sintetis di China ke level tertinggi dalam 4 tahun terakhir.

Plummy, yang memasok merek milik Inditex seperti Zara dan Pull&Bear, mencatat harga benang poliester melonjak hingga 25 persen hanya dalam beberapa pekan setelah perang dimulai.

Sementara harga kapas juga melonjak hingga level tertinggi dalam 2 tahun karena pembeli mencari alternatif bahan baku dan pasokan yang semakin ketat.

Ancaman fenomena El Nino terhadap hasil panen turut menambah tekanan. Kontrak berjangka kapas bahkan baru-baru ini mencapai level tertinggi sejak Maret 2024.

Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Getty Images

“Yang tidak biasa dalam kondisi saat ini adalah kedua serat utama sama-sama menghadapi tekanan biaya pada saat yang bersamaan. Hal itu menghilangkan kemampuan yang biasanya dimiliki merek untuk mengganti satu jenis serat dengan serat lainnya,” kata partner McKinsey & Co., Julian Hugl.

Sementara itu produsen kain asal Jerman, Kettelhack, yang sebagian besar produknya menggunakan campuran poliester dan kapas, mencatat biaya produksinya meningkat sekitar 5-8 persen.

“Tidak ada satu pun biaya input yang tidak naik, baik benang poliester, benang kapas, pewarna, bahan kimia, minyak maupun gas,” kata Executive Vice Chairman produsen tekstil India Indo Count Industries, Mohit Jain.

Ilustrasi pabrik tekstil. Foto: Shutterstock

Margin Produsen Tertekan

Kenaikan harga bahan baku membuat produsen menjadi pihak yang paling tertekan. Di Plummy, bahan baku menyumbang sekitar 60 persen dari biaya produksi kaus, sementara margin pabrik rata-rata hanya sekitar 2-3 persen. Dengan permintaan yang masih lemah, Plummy memilih menanggung kenaikan biaya tersebut.

“Kami benar-benar tidak punya daya tawar. Kami tidak menanam kapas, kami tidak memproduksi chip poliester, dan minyak bumi bukan produk kami,” ujar Fazlul.

Tekanan tersebut mulai terlihat di pusat-pusat produksi pakaian Asia. India, salah satu pusat pengadaan pakaian terbesar di dunia, menyumbang sekitar 4 persen perdagangan tekstil dan pakaian global. Tapi, ekspor pakaian jadi India turun 4,5 persen pada Juli dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan ekspor, dengan pengiriman turun 10,5 persen dalam 4 bulan pertama tahun fiskal.

Nilai ekspor pakaian Bangladesh juga sekitar USD 800 juta per tahun ke Timur Tengah. Namun, perdagangan untuk sementara hampir sepenuhnya terhenti akibat konflik.