Perhatian! Investasi Saham Jangan Latah

Merencanakan keuangan dengan investasi di pasar modal tidak boleh asal ikut-ikutan mana yang ramai. Bisa saja saham yang sedang moncer merupakan hasil gorengan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menyarankan bagi para pemula harus mempelajari dulu terkait investasi saham. Ia meminta masyarakat tidak latah.
“Pelajari analisa fundamentalnya, analisa teknikal sendiri ada sekian banyak parameter yang kita gunakan. Jadi jangan latah ketika orang ramai-ramai masuk ke situ mereka mendapatkan untung, dan kita akan mendapatkan untung terus, enggak seperti itu,” kata Andy saat dihubungi kumparan, Senin (18/1).
Apalagi, kata Andy, di pasar saham ada parameter yang harus dipahami juga seperti terkait bagaimana saham yang semula melejit bisa saja tiba-tiba turun. Kalau sudah terindikasi saham yang mau dibeli harganya turun, maka niat berinvestasi di situ harus dipikir lagi dari pada nantinya merugi.
Andy mengatakan investasi di saham juga tidak bisa langsung jor-joran menggelontorkan semua alokasi dana yang dimiliki. Bisa dimulai 30 persen atau 50 persen dari anggaran investasi yang dimiliki.
“Jadi kita belajar melihat pergerakannya, belajar dulu menyiapkan mental kita, sebenarnya banyak hal yang harus kita pelajari, jadi enggak cuma di pasar modal saja tapi berkaitan dengan produk investasi,” ujar Andy.
Lebih lanjut, Andy menuturkan dalam berinvestasi saham juga perlu diingat lagi terkait persentase risiko untung dan ruginya. Ia menganggap besar atau kecilnya modal yang dikeluarkan untuk investasi saham persentasenya sama saja.
Andy mencontohkan ada 2 orang yang masing-masing mempunyai 1 lot di saham yang sama, tetapi modal mereka berbeda yaitu Rp 10 juta dan Rp 100.000. Apabila keesokan harinya saham yang dibeli naik 10 persen, maka persentase yang didapat antara modal Rp 10 juta dan Rp 100.000 juga sama 10 persen.
Hanya beda nominal yang didapatkan berbeda yaitu yang modal Rp 10 juta bisa mendapatkan Rp 1 juta. Sedangkan yang modal Rp 100.000 mendapatkan Rp 10.000. Kondisi tersebut juga berlaku saat saham yang dibeli turun.
“Kita mesti perhatikan persentasenya itu sebenarnya sama-sama saja. Jadi kadang orang tergiur untuk mengucurkan modal sangat besar karena itu tadi melihat nominal yang bisa didapatkan tadi, padahal persentasenya juga sama-sama saja,” terang Andy.
“Risikonya adalah kalau kemudian ternyata yang tadi kita kucurkan justru malah turun harganya yah itu konsekuensinya kita akan menjadi merugi,” tambahnya.
Untuk itu, Andy menegaskan sebenarnya yang lebih menjadi perhatian juga adalah menghindari kerugian yang didapat. Sehingga pemahaman tetap diperlukan dalam investasi saham.
“Ya mau nggak mau kita harus belajar lebih banyak, lebih dalam tentang pasar saham,” terang Andy.
