Perkantoran di Luar Kawasan Sentral Bisnis Jakarta Sepi Peminat

1 Februari 2017 16:21 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:18 WIB
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
Bangunan gedung Grand Kamala Lagoon. (Foto: Aria Pradana/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan gedung Grand Kamala Lagoon. (Foto: Aria Pradana/kumparan)
Meskipun pembangunan perkantoran di luar kawasan Central Business District (CBD) Jakarta sudah cukup masif, namun belum bisa menarik pelaku bisnis pindah dari kawasan populer seperti di Sudirman, Kuningan dan Thamrin. Hal ini terlihat dari hasil riset konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL), yang menunjukkan tingkat hunian (okupansi) perkantoran kawasan luar CBD sepanjang 2016 turun menjadi 76 persen dibanding tahun sebelumnya yang di atas 80 persen.  Kepala Riset JLL James Taylor mengatakan, okupansi perkantoran di luar sentral bisnis Jakarta (non-CBD) menurun sepanjang 2016. Bahkan diprediksi tahun ini terus turun mencapai titik terendahnya.  "Jika kita lihat tingkat hunian pasar perkantoran di luar sentral bisnis Jakarta menurun. Diprediksi hingga 2017 pasar perkantoran di luar sentral bisnis terus menurun mencapai titik terendah," kata  Taylor di Kantor JLL, Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (1/2). 
ADVERTISEMENT
Sebuah gedung klub malam di Mangga Besar (Foto: Aldis Tannos/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah gedung klub malam di Mangga Besar (Foto: Aldis Tannos/kumparan)
Pasar perkantoran di luar kawasan CBD diprediksi mulai membaik di 2018-2019. Adapun pasokan yang tersedia di kawasan non-CBD tersedia 2,6 juta meter persegi (m2) dan pasokan cadangan tercatat 0,5 juta m2. Sebagai pembanding, okupansi perkantoran di CBD Jakarta masih lebih tinggi yaitu 84 persen. Namun, angka ini juga menurun di titik terendahnya dari tahun lalu yang ada di kisaran 86 persen. "Tingkat permintaan sewa perkantoran luar CBD itu sekitar Rp 100 ribu per m2.  Tingkat penyerapan dibanding pasar kantor CBD masih sedikit di atas rata-rata non-CBD selama 10 tahun terakhir. Jadi masih cukup moderat, " imbuh Taylor. Dalam kesempatan yang sama, Head of Advisory JLL, Vivin Harsanto mengungkapkan alasan turunnya okupasi perkantoran di luar CBD. Dia mengatakan memang saat ini kawasan non-CBD mulai bersaing dengan CBD.  "Kondisinya harga antara non-CBD dan CBD tidak berbeda jauh. Jadi kalau memang tidak ada kepentingan, pelaku bisnis tidak perlu pindah dari kawasan CBD. Trennya tahun ini juga akan flat untuk pertumbuhan pasar perkantoran di non-CBD," kata Vivin.
ADVERTISEMENT