Kumparan Logo

Perkembangan Teknologi Dikhawatirkan Gerus Profesi Broker Saham

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatihan wartawan pasar modal di Bali (Foto: Ela Nurlaela/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pelatihan wartawan pasar modal di Bali (Foto: Ela Nurlaela/kumparan)

Berkembangnya digital teknologi belakangan ini sering dikhawatirkan oleh semua sektor industri. Sebab, perkembangan teknologi digital saat ini mulai mengancam lahan pekerjaan, karena tenaga kerja manusia akan dengan mudah digantikan oleh teknologi.

Sektor perbankan telah mengantisipasi terjadinya hal tersebut, mereka mulai melakukan efisiensi pegawainya guna menghadapi ancaman teknologi. Hal serupa dirasakan oleh perusahaan efek, hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) John C.P Tambunan.

Menurut Jhon, perkembangan teknologi digital dikhawatirkan menggerus profesi broker atau para pialang saham. Pasalnya, saat ini para investor sudah bisa menggunakan layanan online untuk melakukan transaksi di pasar modal.

"Masing-masing orang (investor) sudah punya SID (Single Investor Identification), bukan tidak mungkin suatu saat fungsi broker tidak ada lagi kecuali dia pemegang saham. Fungsi itu hilang digantikan oleh mesin dengan iPhone," katanya dalam acara pelatihan wartawan pasar modal di Bali, Jumat (15/12).

Pergerakan IHSG (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pergerakan IHSG (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Sementara itu, saat ditemui di tempat yang sama, Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto menyebutkan, kehadiran teknologi digital tak bisa dihindari. Menurut dia, agar tetap bertahan di tengah gempuran teknologi digital, ia mengimbau agar para pekerja bisa meningkatkan kemampuannya.

"Tentunya harus ditunjang oleh skill dari human capital yang ada di pasar modal. Kalau kita enggak meningkatkan skill tentunya itu akan digantikan oleh robot oleh teknologi," ujarnya.

Di mana para broker, kata Octavianus, perlu meyakinkan kepada para investor jika bertransaksi di pasar modal itu merupakan hal yang mudah. Hal ini tentunya untuk menjaring semakin banyak investor masuk ke pasar modal.

"Kita harus membuat pasar modal ini yang sangat simpel, kalau ada gula pasti ada semut. Artinya, orang tidak lagi untuk melakukan transaksi di pasar modal untuk investasi, ini tugas kita melakukan konversi, masyarakat selama ini lebih sifatnya saving account, harus kita ubah menjadi investment account," katanya.