Kumparan Logo

Pernah Melesat Rp 19.000, Saham Bank Jago (ARTO) Kini Anjlok ke Rp 5.400

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas tengah menjelaskan cara penggunaan aplikasi Bank Jago. Foto: ANTARA/HO-Bank Jago
zoom-in-whitePerbesar
Petugas tengah menjelaskan cara penggunaan aplikasi Bank Jago. Foto: ANTARA/HO-Bank Jago

Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) terus merosot pada perdagangan, Kamis (13/10). Sempat dibuka hijau di posisi Rp 5.825, sore ini saham Bank Jago ditutup anjlok dengan penurunan 400 poin (6,90 persen) ke posisi Rp 5.400 per lembar saham.

Penurunan saham Bank Jago tak terbendung sejak awal tahun ini. Berdasarkan data RTI, saham Bank Jago pernah menyentuh posisi tertinggi (All Time High/ATH) pada penutupan perdagangan 21 Januari 2022 di posisi Rp 19.000 per saham, namun setelah itu sahamnya terus merosot hingga sore ini.

Jika diakumulasikan secara year to date (YTD), saham Bank Jago sudah anjlok 66,25 persen. Kapitalisasi pasar tercatat di posisi Rp 74,82 triliun. Per 30 Juni 2022, laba bersih Rp 28,92 miliar, ekuitas Bank Jago berada di posisi Rp 8,28 triliun, arus kas Rp 1,65 triliun, aset Rp 14,61 triliun, dan utang Rp 6,33 triliun.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan ada beberapa penyebab saham ARTO anjlok. Pertama, saat pandemi COVID-19, bank digital, termasuk ARTO, melesat tajam. Namun, kini pandemi berakhir, rupanya mempengaruhi gerak laju saham bank digital.

"Kedua, treng suku bunga naik. Biasanya saham teknologi masih rugi, tapi ekspetaksi untung, sehingga pertumbuhan jangka panjang. Saham teknologi valuasinya menjadi mahal, jadi tertekan turun ke bawah," katanya saat dihubungi kumparan.

Ketiga, biasanya saham startup seperti bank digital dianggap spekulatif. Kalau ekonomi buruk, inflasi tinggi, saham sektor ini akan cenderung terkoreksi.

"Apalgi suku bunga The Fed naik terus, (bikin) valuasi turun bank sentral dalam negeri juga menaikkan suku bunga. Resesi datang. Biasasnya, kalau resesi datang, saham growth stock akan terkoreksi turun," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy. Menurutnya kenaikan suku bunga acuan AS dan Bank Indonesia berpengaruh pada saham teknologi, termasuk bank digital seperti ARTOS. Para investor cenderung beralih ke saham sektor komoditas karena harga jualnya lebih menjanjikan di pasar global seiring meningkatnya permintaan energi dan pangan.

"Semua sektor saat ini defensif dan outlook pertumbuhan ekonomi juga cenderung kurang. Kenaikan suku bunga memang membuat saham-saham teknologi ditinggalkan," ujarnya.

Bank Jago berdiri pada 1992 dan pertama kali melantai di BEI pada 12 Januari 2016. Namun saat itu masih bernama PT Bank Artos.

Pada 2019, PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan Wealth Track Technology Limited (WTT) masuk sebagai pemegang saham pengendali baru setelah mengakuisisi saham Bank Artos masing-masing sebesar 37,65 persen dan 13,35 persen. Setelah itu, pada 2020 Bank Artos pun berubah menjadi bank digital dengan brand Bank Jago.

Ilustrasi transaksi dengan uang digital Gopay. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Selain MEI dan WTT, pemegang saham Bank Jago lainnya adalah PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay) 21,40 persen, GIC Private Limited 9,21 persen, dan saham publik 27,8 persen.

Salah satu pemegang saham pengendali Bank Jago dari WTT, Patrick Walujo, pernah menanggapi soal harga saham bank digital, termasuk Bank Jago yang dalam beberapa pekan terakhir naik turun pada akhir Mei 2022. Saat itu harga saham Bank Jago sudah anjlok di bawah Rp 10.000.

Menurutnya pergerakan harga saham yang fluktuatif sangat wajar. Menurut dia, yang terpenting dalam sebuah perusahaan adalah fundamental bisnis yang harus semakin baik.

"Harga saham itu bisa naik dan bisa turun, yang penting bisnisnya sendiri fundamentalnya tambah bagus atau jelek, itu yang harus dimonitor," katanya yang juga pendiri Northstar Pacific usai kegiatan Leaders Talk #1 yang digelar Universitas Parahyangan, Bandung, Senin (30/5).