Perputaran Uang Selama Ramadan-Idulfitri 2025 Diproyeksi Rp 140,7 triliun

28 Maret 2025 14:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suasana 'war takjil' di bazar takjil Ramadan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (27/3/2025). Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana 'war takjil' di bazar takjil Ramadan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (27/3/2025). Foto: Haya Syahira/kumparan
ADVERTISEMENT
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memprediksi perputaran uang selama momen Ramadan dan Idulfitri akan melemah dibandingkan dengan tahun 2024.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan modelling yang dilakukan Celios pada tahun 2024, tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) akibat adanya momen Ramadan dan Idulfitri mencapai Rp 168,55 triliun. Sedangkan tahun 2025 hanya Rp 140,74 triliun atau turun 16,5 persen. Sedangkan keuntungan pengusaha hanya Rp 84,19 triliun, jauh di bawah tambahan pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp 100,83 triliun.
Kata Huda, tambahan jumlah uang yang beredar (JUB) dalam artian sempit, selama momen Ramadan dan Idulfitri 2025 akan melemah sebesar 16,5 persen dibandingkan momen yang sama tahun 2024.
"Tambahan uang beredar di Ramadan-Idulfitri 2025 ini hanya sebesar Rp 114,37 triliun. Sedangkan tahun 2024, tambahan uang beredar ketika momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mencapai Rp 136,97 triliun," kata Huda dalam keterangan resminya, Jumat (28/3).
ADVERTISEMENT
Prediksi melemahnya PDB pada momen Idulfitri ini, Huda menjelaskan karena kondisi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif membuat kinerja konsumsi melemah, dengan salah satu indikatornya adalah indeks keyakinan konsumen (IKK).
Pada Januari 2025, terjadi penurunan IKK hingga 0,4 persen (month-to-month/mtm) dibandingkan IKK Desember 2024.
"Situasinya cukup anomali, jika kita mengacu pada periode 2022 hingga 2024, biasanya terjadi kenaikan IKK bulan Januari karena ada optimisme konsumen awal tahun. Kondisi keyakinan konsumen melemah juga terjadi pada bulan Februari 2025," lanjutnya.
Data lain menunjukkan hal yang serupa, ada penurunan angka indeks penjualan riil (IPR) pada Januari 2025. Pada Desember 2024, angka IPR sebesar 222 poin dan angka IPR turun menjadi 211,5 pada Januari 2025.
ADVERTISEMENT
Indikator lain yang memotret pelemahan daya beli masyarakat adalah menurunnya porsi simpanan perorangan yang hanya mencapai 46,4 persen terhadap total dana pihak ketiga (DPK).
Menurut Direktur Celios Bhima Yudhistira, pada awal periode pemerintahan Joko Widodo, simpanan perorangan porsinya 58,5 persen dan pemerintahan Joko Widodo jilid 2 sebesar 57,4 persen.
Bhima memandang merosotnya porsi tabungan perorangan, mengindikasikan masyarakat cenderung bertahan hidup dengan menguras simpanan, karena upah riil terlalu kecil, tunjangan berkurang, dan ancaman PHK masih berlanjut.
Ilustrasi hidangan lebaran. Foto: Shutterstock
"Dengan berbagai indikator perekonomian tersebut, Celios memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2025 hanya 5,03 persen (year-on-year). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2024 yang mencapai 5,11 persen.” kata Bhima.
Perkiraan pertumbuhan memperhitungkan dampak dari momen Ramadan dan Idulfitri 2025 yang secara siklus mendorong konsumsi rumah tangga lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024.
ADVERTISEMENT
Namun, Bhima meneruskan, faktor seasonal yang diikuti pembagian THR tetap tidak mampu membuat ekonomi tumbuh lebih tinggi. Bahkan dikhawatirkan ekonomi bakal melambat pascalebaran, karena tidak ada lagi motor penggerak konsumsi yang signifikan.
"Belanja pemerintah yang sedang efisiensi besar-besaran juga berpengaruh ke consumer confidences. Pelemahan kurs rupiah juga menambah kehati-hatian dari masyarakat untuk membelanjakan uangnya” imbuh Bhima.