Kumparan Logo

Pertalite Disubsidi, Penghapusan BBM Premium Kian Nyata

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara sepeda motor mengantre membeli bahan bakar Pertalite di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (30/3).
 Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara sepeda motor mengantre membeli bahan bakar Pertalite di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (30/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pemerintah memasukkan Pertalite sebagai BBM bersubsidi. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, dalam rapat dengan Komisi VII DPR kemarin, Selasa (29/3).

Dengan kebijakan ini, Pertalite masuk kategori Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), sama seperti Premium. Sebelumnya Pertalite merupakan Jenis BBM Umum (JBU) bersama Pertamax, Pertamina Dex, dan lainnya yang tidak disubsidi pemerintah.

Keputusan ini diprediksi bakal membuat konsumsi Pertalite meningkat. Mengacu data Kementerian ESDM, dalam beberapa tahun terakhir ternyata konsumsi Pertalite terus meningkat. Bagaimana datanya?

embed from external kumparan

Kementerian ESDM mengatakan konsumsi Pertalite pada 2021 sebesar 23 juta kiloliter (KL) dan menjadi BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menerangkan, porsi konsumsi Pertalite sekitar 79 persen di antara BBM jenis bensin lainnya seperti Pertamax, Turbo, atau Premium.

Konsumsi Pertalite sempat mengalami penurunan. Pada 2020 tercatat sebesar 18,1 juta KL. Turun dari tahun sebelumnya yang sebanyak 19,4 juta KL. Agung mengungkapkan, hal tersebut diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Agung juga memproyeksikan konsumsi Pertalite tahun ini berada di kisaran 23 juta KL.

Penurunan cukup drastis terjadi pada BBM jenis Premium. Dari konsumsi tertinggi sebanyak 28,8 juta KL pada 2014, turun menjadi 8,3 juta pada 2020.

Dalam sebuah konferensi pers pada 12 Januari, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan konsumsi BBM Premium di Pulau Jawa menyentuh angka 0,3 persen.

"Premium kalau di Jawa hanya 0,3 persen, dan saya rasa secara by nature akan tergantikan, ini alami masyarakat sendiri yang memutuskan," ujar Arifin.

Konsumsi Pertalite per Februari Sudah Melebihi Kuota

Guru Besar ITB, Profesor Tutuka Ariadji. Foto: itb.ac.id

Tutuka Ariadji menuturkan, kuota JBKP Pertalite untuk tahun 2022 ini dialokasikan sebesar 23,05 juta KL. Sementara realisasinya, per Februari 2022 mencapai 4,258 juta kiloliter, melebihi kuota yang telah ditetapkan alias bengkak.

Dengan kondisi tersebut, Tutuka memprediksi adanya kelebihan kuota hingga akhir tahun sebesar 15 persen dari kuota yang ditetapkan sebesar 23,05 juta KL.

"Jika diestimasikan dengan skenario ini, maka di akhir 2022 akan ada over kuota 15 persen dari kuota normal atau menjadi 26,5 juta KL," jelas Tutuka, saat rapat dengan Komisi VII DPR, Selasa (29/3) kemarin.

Namun begitu, pemerintah bersama Pertamina telah memastikan pengamanan pasokan BBM dan LPG, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri ini. Tutuka mengeklaim, kondisi stok dan coverage days BBM semua jenis dalam kondisi aman.

Berikut rinciannya (Status 27 Maret 2022)

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 7 data

Jenis BBM
Stok (kiloliter)
Ketahanan (hari)
RON 88 (Premium)
344.347
26,3
RON 90 (Pertalite)
1.157.229
15,7
RON 92 (Pertamax)
927.137
25,9
CN 48 (Solar)
1.900.922
23,2
CN 53 (Pertamina Dex)
29.212
23,4
Kerosene
73.536
54,5
Avtur
306.960
39,1

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 1 data

Gas
Stok (Mton)
Ketahanan (hari)
LPG
382.818
16,4 hari

Naik Level ke Bahan Bakar Berkualitas

Illustrasi BBM Premium. Foto: Istimewa

Keputusan pemerintah mensubsidi Pertalite mengundang pertanyaan mengenai bagaimana nasib BBM jenis Premium yang kini makin langka ditemukan.

Pemerintah memang sudah lama berencana untuk menghapus Premium. Kebijakan ini juga mengikuti adanya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 Tahun 2017, Indonesia sudah harus mengadopsi kendaraan dengan BBM berstandar Euro 4 sejak 10 Maret 2017.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, tidak menjawab dengan tegas apakah Premium akan segera dihapus atau tidak. Menurutnya, semua berjalan secara alamiah.

"Sejak 2 tahun lalu program edukasi dan promosi Pertamina dilakukan melalui program langit biru dan memang setelah merasakan manfaat BBM yang lebih berkualitas, masyarakat mulai beralih ke Pertalite," kata Fajriyah kepada kumparan, Rabu (30/3).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Menteri ESDM Arifin Tasrif pernah mengatakan bahwa masyarakat semakin sadar menggunakan BBM yang ramah lingkungan, sehingga penggunaan BBM Premium sudah mulai ditinggalkan.

Dia juga membeberkan, di seluruh dunia hanya ada tujuh negara yang masih menggunakan BBM Premium, yakni Indonesia, Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan.

Jika kita melihat dari segi kualitas, BBM memang mengacu pada nilai oktan atau Research Octane Number (RON). Semakin tinggi nilai oktan, maka semakin tinggi pula kualitasnya. BBM yang memiliki oktan tinggi lebih lambat terbakar, sehingga tidak meninggalkan residu pada mesin yang dapat mengganggu kinerja, membuat mesin menjadi awet. Tak lupa juga lebih ramah lingkungan.

Dikutip dari laman resmi Pertamina, Premium merupakan BBM dengan oktan minimal 88. Premium diproduksi berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Np.3674/K24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 tentang Spesifikasi Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 88. Premium digunakan pada kendaraan dengan kompresi mesin rendah (di bawah 9:1).

Sedangkan Pertalite, memiliki oktan 90 dengan warna hijau terang. Bahan bakar ini cocok digunakan untuk kendaraan dengan kompresi mesin 9:1 hingga 10:1.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 5 data

Jenis BBM
RON
Pertamax Racing
100
Pertamax Turbo
98
Pertamax
92
Pertalite
90
Premium
88

Premium Tak Baik untuk Mesin Kendaraan & Lingkungan

Meski harga jual BBM Premium murah, tapi efek jangka panjang yang ditimbulkan akibat pemakaian bensin RON 88 dapat memengaruhi komponen mesin di dalamnya.

Ilustrasi mekanik sedang melihat keadaan mesin mobil Foto: Istimewa

Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak, Suparna, menjelaskan penggunaan bahan bakar oktan rendah akan berpengaruh pada pembakaran yang tidak sempurna.

“Jika menggunakan bahan bakar oktan rendah, waktu pengapiannya jadi bergeser sehingga bensin tidak terbakar sempurna, pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan kerak karbon,” ujar Suprana.

Karbon yang dihasilkan secara terus-menerus dalam jumlah banyak dapat menyebabkan penumpukan sisa dan menjadi kerak pada komponen mesin.

Ilustrasi Knalpot Mobil Foto: dok Muhammad Ikbal/kumparan

Selain kerusakan komponen, efek negatif penggunaan bahan bakar oktan rendah juga berdampak pada emisi yang dihasilkan.

“Emisinya juga pasti lebih tinggi, walaupun mesin terkini masih sangat oke, tetap lolos (standar emisi) sih, karena di Indonesia standarnya (emisi) kan masih sangat longgar, tetapi kalau pakai Euro 4 sudah pasti engga akan lolos,” terang Suparna kepada kumparanOTO.