Pertambangan-Teknologi, Ini Deretan Sektor yang Masih Akan Merekrut Pekerja
·waktu baca 3 menit

Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI) menjelaskan dalam beberapa tahun ke depan, masih ada sektor-sektor usaha yang akan membutuhkan dan melakukan rekrutmen pekerja. Sektor usaha terkait merupakan usaha yang bergerak di bidang teknologi sampai pertambangan.
Ketua ISPI, Ivan Taufiza, menjelaskan untuk sektor teknologi, ia melihat masih banyak usaha terkait yang baru memasuki tahap perkembangan atau baru masuk berinvestasi di Indonesia. Atas dasar itu, sektor ini masih membutuhkan tenaga kerja baru sehingga rekrutmen akan terus dilakukan.
“Bisnis-bisnis seperti data center, gitu ya. Itu hot banget, itu ekspansi dia. Sudah pasti merekrut (tenaga kerja baru),” kata Ivan kepada kumparan, Minggu (26/4).
“Sektor-sektor yang deket-deket dengan teknologi, robotik, listrik, gitu ya, itu sudah pasti growing. Pasti. Sudah pasti (merekrut tenaga kerja baru),” lanjutnya.
Selain teknologi, menurutnya sektor yang masih akan melakukan rekrutmen pekerja beberapa tahun ke depan adalah sektor yang berkaitan dengan komoditas pertambangan penting seperti emas sampai logam tanah jarang.
Selain itu, sektor energi yang berkaitan dengan energi bersih juga menurutnya masih akan melakukan rekrutmen pekerja baru.
“Perak naik, rare earth, tanah jarang itu akan naik, gitu ya. Jadi, perlu dilihat juga dari sub-sektornya itu sendiri, gitu. Tambang, oke, kalau cuma oil, iya (sedikit berkurang rekrutmennya) tapi kalau tadi misalnya, rare earth atau silver, ya naik-naik juga. Geothermal (energi bersih), naik (rekrutmennya),” ujarnya.
Meski demikian, ia tak menutup kemungkinan usaha pada sektor-sektor tersebut, khususnya di sektor teknologi akan mengoreksi proyeksi rekrutmen dari proyeksi awal ketika mengembangkan usaha atau berinvestasi di Indonesia.
Biasanya, selain faktor ekonomi, koreksi proyeksi rekrutmen tersebut terjadi karena beberapa faktor seperti kepastian hukum sampai keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Mungkin karena satu dan lain hal, bukan karena ekonomi saja, tapi tadi, kepastian hukum, LSM, faktor lingkungan hidup, banyak sekali variabelnya yang mungkin dia akan mengoreksi. Ya, nggak 10 ribu (pekerja) lagi, mungkin 8 ribu, gitu lah ya,” kata Ivan.
Ia juga tak menutup realita saat ini juga ada sektor yang menurutnya sedang mengalami ‘sunset’ dalam melakukan rekrutmen pekerja baru. Biasanya, sektor yang mengalami hal itu merupakan sektor usaha yang terdisrupsi dengan keberadaan kecerdasan buatan (AI) atau sektor sumber daya alam yang sifatnya kontrak.
“Ada beberapa sektor tadi yang kita bilangnya sunset atau bilangnya akan kena disruption dari AI, dan seterusnya. Aplikasi startup, dan seterusnya bank, terutama sektor keuangan,” ujar Ivan.
“Semua yang bau-bau ini, sumber daya alam yang sifatnya kontrak, jadi kayak oil and gas. Oil and gas itu kan tadi ya, apa namanya, konsesinya kan 20 tahun, gitu kan. Nah kalau sudah mau habis nanti pasti diambil negara tuh, pemerintah, iya kan?,” lanjutnya.
Sebelumnya, mayoritas perusahaan di Indonesia diperkirakan belum akan membuka lowongan kerja baru dalam waktu dekat. Hal ini tercermin dari hasil survei internal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menunjukkan minimnya rencana ekspansi di kalangan pelaku usaha.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyebut kondisi ini menjadi sinyal penting yang perlu diperhatikan. Khususnya dalam upaya penciptaan lapangan kerja.
"Hasil survei kita juga di Apindo saat ini 50 persen perusahaan itu nggak punya rencana untuk expand dalam lima tahun ke depan. Dan 67 persen perusahaan itu tidak berniat untuk melakukan rekrutmen baru. Ini yang menurut kita juga salah satu hal yang perlu diperhatikan," kata Bob dalam Rapat Komisi IX DPR RI, Selasa (14/4).
Ia menjelaskan, lesunya rencana penyerapan tenaga kerja tak lepas dari tren investasi yang dinilai belum optimal. Khususnya di sektor padat karya, yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja, justru mengalami penurunan minat investasi.
