kumparan
2 Jan 2018 21:27 WIB

Pertamina Cari Partner Buat Garap Blok East Natuna

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan)
Setelah ExxonMobil resmi mengembalikan Blok East Natuna kepada pemerintah Indonesia pada Agustus 2017 lalu, kini Pertamina mencari partner (mitra) baru untuk menggarap ladang gas terbesar Indonesia itu.
ADVERTISEMENT
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan, Pertamina membutuhkan partner untuk karena pengembangan Blok East Natuna membutuhkan biaya investasi yang besar dan teknologi tinggi. BUMN perminyakan itu tak mungkin menggarap East Natuna sendirian.
"Sekarang Pertamina lagi cari partner, risiko bisa terbagi jadi Pertamina lagi cari partner," kata Arcandra saat ditemui di Pos Pemantauan Gunung Agung, Bali, Selasa (2/1).
Ia mengatakan bahwa sudah ada beberapa perusahaan yang berminat menjadi anggota konsorsium baru di Blok East Natuna. Namun Arcandra enggan merincinya. "Sudah ada beberapa," ucapnya.
Sebagai informasi, cadangan gas Blok East Natuna yang mencapai 46 triliun kaki kubik (TCF) sudah berhasil ditemukan sejak 1973 alias 44 tahun lalu. Cadangan gas di East Natuna merupakan yang terbesar di Indonesia, jumlahnya mencapai 4 kali lipat Blok Masela.
ADVERTISEMENT
East Natuna direncanakan mulai memproduksi gas hingga 1.000 MMSCFD pada 2027. Nilai proyeknya hingga memasuki tahap produksi saja diperkirakan sudah mencapai USD 40 miliar alias Rp 520 triliun.
Kesulitan dalam pengembangan Blok East Natuna adalah kandungan CO2 yang mencapai 72% sehingga diperlukan teknologi khusus untuk memproduksi gasnya, biayanya pun pasti mahal.
Perairan Natuna bagian timur terancam dicaplok, China mengklaim daerah tersebut sebagai wilayahnya karena masuk dalam 9 garis batas di Laut China Selatan. Indonesia harus segera melakukan aktivitas di sana untuk menunjukkan kedaulatan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan