Kumparan Logo

Pertamina Gandeng 39 Mitra Garap Sumur Nganggur, Begini Skema Kerja Samanya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengontrol keran pipa produksi yang berasal dari sumur menuju stasiun pengumpul minyak mentah Central Gathering Station (CGS) 10 Field Duri, Blok Rokan, Bengkalis, Riau. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengontrol keran pipa produksi yang berasal dari sumur menuju stasiun pengumpul minyak mentah Central Gathering Station (CGS) 10 Field Duri, Blok Rokan, Bengkalis, Riau. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menyiapkan skema kerja sama pengelolaan idle well atau sumur yang tidak terpakai alias menganggur antara PT Pertamina (Persero) dengan mitra.

Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementerian ESDM, Ariana Soemanto, mengatakan reaktivasi sumur idle dan idle field (lapangan menganggur) untuk meningkatkan produksi migas nasional.

Ariana mencatat Indonesia memiliki 4.500 sumur idle yang potensial untuk direaktivasi. Sebanyak 4.200 sumur tersebut merupakan milik Pertamina.

"Ada 1.700 sumur yang akan dikerjakan sendiri oleh Pertamina, kemudian ada 2.500 sumur idle yang akan dikerjakan oleh Pertamina dengan kontrak kerja sama," ujarnya saat IPA Convex 2025, Kamis (22/5).

Ariana mengatakan, peta jalan reaktivasi sumur idle yaitu sebanyak 500 sumur akan dilelang oleh Pertamina pada tahun ini dan tahun depan. Kemudian sebanyak 2.000 sumur dilelang antara tahun 2027 dan 2028.

Dia menyebutkan, 500 sumur tersebut sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan sebagian besar berada di daratan (onshore), sementara sekitar 60 sumur berada di lepas pantai (offshore).

Pertamina, kata dia, sudah melapor kepada satuan tugas (satgas) dan sudah membuka data untuk kerja sama sumur idle dengan para mitra. Perusahaan sudah mengundang sekitar 99 mitra.

"Sampai saat ini, sedikitnya 39 mitra bersedia mengeksekusi untuk mengaktifkan kembali kerja sama sumur-sumur tersebut," kata Ariana.

Untuk memfasilitasi perjanjian atau kontrak reaktivasi sumur idle, Kementerian ESDM sedang menggodok regulasi dan sosialisasi dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Konsep regulasi ini, kata Ariana, meliputi teknologi atau strategi kerja sama yakni mencakup kerja sama untuk sumur-sumur idle, sumur-sumur produksi, lapangan idle, dan juga lapangan produksi.

Adapun saat ini sudah ada regulasi yang mewadahi Kerja Sama Operasi (KSO) antara Pertamina dan mitra KKKS untuk sumur dan lapangan idle. Namun, implementasinya masih sangat terbatas.

Pekerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) melakukan perawatan sumur minyak atau Workover Well Service (WOWS). Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

"Sekarang mungkin hanya ada 24 atau 29 KSO. Jadi, kita coba buat regulasi ini untuk mempercepat atau membuat KSO lebih banyak. Konsep baru ini akan memungkinkan kegiatan baru seperti deepening, sidetrack, new drilling, multifrack yang akan dilakukan oleh mitra-mitranya," jelas Ariana.

Beberapa syarat dalam skema kerja sama tersebut yakni dari sisi administrasi, teknis, keuangan, dan service fee (biaya servis). Menurut Ariana, aspek service fee sangat penting untuk mencegah negosiasi yang bertele-tele antara KKKS dengan mitranya.

"Misalnya, untuk sumur idle, mitra akan dibayar service fee sebesar 70 persen dari harga ICP atau 70 persen dari cost. Kalau ada pesaing di antara mitra, maka calon mitra yang bisa mengajukan service fee terendah yang akan menjadi pemenangnya. Jadi, tidak ada negosiasi lagi," ungkap Arina.

Sedangkan untuk lapangan idle, lanjut dia, pembagian service fee antara pemerintah dengan KKKS atau Pertamina yakni sebesar 60 persen untuk pemerintah dan 40 persen untuk kontraktor atau Pertamina.

"Dalam hal ini, mitra kerja bisa mendapatkan 85 persen sebagai service fee dari bagi hasil KKKS Pertamina. Sementara KKKS hanya mendapatkan 50 persen," kata Ariana.

"Dalam hal ini, KKKS atau Pertamina tidak memberikan investasi dan biaya. Kami berharap skema ini dapat mempercepat negosiasi antara KKKS atau Pertamina dengan mitra kerjanya," ujarnya.

Berikut Daftar Calon Mitra:

20 potential partners:

1. PT Swadaya Abdi Manunggal

2. PT Sam Energi Gemilang

3. PT Catur Arya Adiguna

4. PT Wira Insani

5. PT Bimata Rasuna Energi

6. PT Perta Karya Gemilang

7. PT Wimaya Energy

8. PT Bintang Jambi Energy

9. PT Baker Hughes Indonesia

10. PT Quest Semesta Raya

11. PT Patra Rezeki Nuswantara

12. PT Halliburton Indonesia

13. PT Barqa Indo Graha

14. PT Bukitapit Bumi Persada

15. PT NPS Energy Indonesia

16. PT Mitra Kencana Persada (Mundur)

17. PT Huafu Hope Indonesia (Mundur)

18. PT Mitra Mandiri Saktitama

19. PT Bumi Petro Persada

20. PT Midas Prima Energi

21. PT Anton Oil

22. PT Baker Hughes Indonesia

23. PT Santosa Asih Jaya

24. PT Halliburton

25. PT. Aliansi Lintas Teknologi (Alliance Geotechnical Services)

26. PT Aspebindo

27. PT Petroindo Global

28. Induk KUD

29. PT Geo Services

30. Baker Hughes Indonesia

31. ⁠Halliburton Indonesia

32. PT MMP (Migas Mandiri Pratama)

33. Anton Oilfield Services

34. PT APS (Abdi Patra Sejati)

35. Baker Hughes Indonesia

36. Halliburton Indonesia

37. Mulino

38. Anton Oilfield Services

39. Inkop

instagram embed