Pertamina Mulai Pengoperasian Awal Unit RFCC di Kilang Balikpapan

10 November 2025 18:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas melakukan kontrol di PT Kilang Pertamina Balikpapan. Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melakukan kontrol di PT Kilang Pertamina Balikpapan. Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
PT Pertamina memastikan unit pengolahan atau Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex yang menjadi bagian dari Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, sudah mulai masuk awal pengoperasian.
ADVERTISEMENT
“Tapi kalau yang sekarang yang RFCC, yang untuk solar, avtur, dan LPG. Jadi tetap ini prosesnya, dan kita namakan itu integrated kan,” kata Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11).
Teknologi RFCC merupakan bagian penting dari proyek kilang, karena meningkatkan nilai tambah residu minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus menghasilkan LPG, gasoline, dan propylene. RFCC Kilang Balikpapan akan menjadi unit RFCC terbesar yang dimiliki oleh Pertamina.
Simon menegaskan RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi dengan infrastruktur lain. “Karena bukan hanya RDMP, tapi ada juga terminal Tanjung Batu, Lawe-Lawe, ada pipa dari Senipah. Jadi prosesnya memang terintegrasi,” jelasnya.
Selain RFCC, Pertamina juga menargetkan pengoperasian unit nafta block untuk produksi bensin pada 2026. Proyek RDMP Balikpapan diharapkan meningkatkan kapasitas produksi BBM nasional dan memperkuat kemandirian energi lewat peningkatan kualitas dan output kilang eksisting.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
FID Rosneft di Kilang Tuban Rampung Awal Desember
Dalam kesempatan yang sama, Simon mengatakan proses Final Investment Decision (FID) untuk Proyek Grass Root Refinery Tuban (GRR Tuban) Kilang Tuban rampung pada awal Desember 2025.
Pertamina dan Rosneft membangun perusahaan patungan pada November 2017 dengan nama PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) untuk proyek GRR Tuban. Sebanyak 55 persen saham dipegang Pertamina dan 45 persen sisanya milik Rosneft.
Menurut Simon, setelah FID selesai perusahaan akan memutuskan langkah lanjutan dari megaproyek yang dikerjakan bersama Rosneft asal Rusia itu.
“Kilang Tuban saat ini kita dalam proses FID ya, nanti setelah itu baru akan kita nilai apakah feasible untuk kita lanjutkan, ataukah ada rencana lainnya gitu. Tapi sampai saat ini masih dalam proses itu,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11).
ADVERTISEMENT
Simon menyebut Pertamina menargetkan keputusan final dapat dikeluarkan dalam beberapa pekan ke depan. “FID kemungkinan kita melihat awal Desember ya, kita akan update lagi,” katanya.