Kumparan Logo

Pertamina Pantau Ketat 2 Kapal yang Masih Terjebak di Selat Hormuz

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan udara pantai Iran dan pulau Qeshm di Selat Hormuz, 10 Desember 2023. Foto: REUTERS/Stringer
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan udara pantai Iran dan pulau Qeshm di Selat Hormuz, 10 Desember 2023. Foto: REUTERS/Stringer

PT Pertamina (Persero) buka suara terkait dua kapal tanker yang masih terdampar di Selat Hormuz, imbas konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan persentase pengiriman minyak mentah Pertamina dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz sebanyak 19 persen dari total impor perusahaan.

Selain dua kapal tanker milik Pertamina yang terdampar di Selat Hormuz, ada dua kapal lainnya masih berada di kawasan Timur Tengah. Pertamina masih memantau nasib aset dan awak kapal dengan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah ada sekitar 19 persen, dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional, Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut bisa memenuhi kebutuhan nasional," jelas Baron saat ditemui di Grha Pertamina, dikutip Rabu (4/3).

Baron menuturkan, perusahaan sudah menyiapkan strategi reguler, alternatif, dan emergensi dalam pengadaan minyak mentah dan BBM dengan tata kelola yang baik. Dia pun meminta masyarakat tetap tenang terhadap kepastian pasokan ini.

"Untuk stok BBM Itu sudah kami siapkan sebelum kejadian ini. Jadi untuk Ramadan dan Idul Fitri sudah kami siapkan, sehingga untuk masyarakat harap tenang, tetap bijak menggunakan energi, dan kami sampaikan bahwa Pertamina Siap menyeluruhkan energi ke seluruh masyarakat," tegasnya.

Kendati begitu, dia belum bisa menjelaskan lebih lanjut langkah alternatif apa saja yang akan dilakukan Pertamina ke depan, terutama terkait pengadaan minyak mentah dan BBM dari luar Timur Tengah.

"Alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari. Untuk pelaksanaan impor, kami sedang berproses tentunya mengedepankan tata kelola yang baik, memenuhi kebutuhan nasional menjadi prioritas kita. Nanti prosesnya tentu akan kami update," tutur Baron.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, saat acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, Selasa (3/3/2026). Foto: Fariza/kumparan

Sebelumnya, PT Pertamina International Shipping (PIS) juga terus melakukan pemantauan intensif untuk memastikan keselamatan para pekerja dan kru kapal yang saat ini berada di kawasan Timur Tengah, dan terdampak akibat eskalasi konflik yang tengah terjadi di area tersebut.

PIS memiliki kantor cabang di Dubai, yakni PIS Middle East (PIS ME) yang saat ini terdapat 30 orang pekerja dan keluarganya.

"Kondisi para pekerja dan keluarga PIS Middle East saat ini dipastikan dalam kondisi aman, dan perusahaan terus memantau situasi di Dubai. Para pekerja kami juga mengikuti imbauan Kedutaan Besar Indonesia di sana untuk terus meningkatkan kewaspadaan, lapor diri, dan menghubungi hotline KBRI maupun KJRI jika terjadi situasi kedaruratan," ujar Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita dalam keterangan resmi.

Vega menegaskan, fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan keselamatan pekerja dan kru kapal serta keamanan operasional armada yang berada di jalur strategis.

Terkait posisi armada di kawasan tersebut, PIS melaporkan terdapat empat kapal yang sedang berada di area Timur Tengah; yakni kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak; kapal Pertamina Pride yang telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi; kapal PIS Rinjani yang saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan, UAE, serta kapal PIS Paragon yang sedang discharge berada di Oman.

PIS terus memastikan untuk memantau kondisi keamanan 4 kapal tersebut. PIS secara proaktif berkoordinasi dengan pihak pengelola kapal (Ship Management) serta otoritas maritim setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. PIS juga terus menjalin komunikasi intensif dan mematuhi himbauan dan arahan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri, KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai.

Terdapat dua kapal yang masih berada di dalam area teluk yakni Pertamina Pride dengan Ship Management dari NYK, dan kapal Gamsunoro yang saat ini dikelola oleh Synergy Ship Management. Keduanya juga terus dipantau real time untuk memastikan kondisi keamanan.

"Sambil terus mengikuti perkembangan selama 24/7, kedua kapal kami upayakan bisa segera keluar dari area teluk. Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal," tambah Vega.

Kapal Pertamina International Shipping (PIS). Foto: PIS

Dampaknya ke Harga BBM

Baron juga menyebut Pertamina masih memantau perkembangan harga minyak mentah global yang tentu akan berdampak pada harga BBM di dalam negeri, khususnya produk nonsubsidi yang tidak diatur pemerintah.

"Untuk tarif BBM ke depan ini, masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut. Tentu kami sudah sampaikan bahwa stok untuk Ramadan dan Idul Fitri aman insyaallah bisa berjalan dengan baik Itu menjadi kewajiban utama kami terlebih dahulu," katanya.

Baron juga belum bisa membeberkan berapa besar kenaikan harga BBM nonsubsidi pada awal April 2026 mendatang, sebab perusahaan masih fokus menjaga ketahanan pasokan.

"Stok kami yang kemarin masih bisa menutupi dan ini terus berjalan. Stok kita akan terus berjalan dan untuk memenuhi strategi itu sedang dibangun dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait termasuk kementerian," tandas Baron.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan akan mengalihkan 20-25 persen pasokan minyak mentah dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz kepada impor dari Amerika Serikat (AS).

video story embed

"Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk diambil di Amerika. Supaya apa, ada kepastian ketersediaan crude kita," jelas Bahlil.

Bahlil menegaskan Indonesia tidak mengimpor BBM bensin lewat Selat Hormuz. Dengan begitu, tidak ada kekhawatiran terkait pengadaan komoditas tersebut. Sementara untuk Solar, dia memastikan Indonesia tidak lagi butuh impor.

Sementara khusus untuk LPG, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari Saudi Aramco sebanyak 30 persen dari alokasi impor, sementara sisanya dipasok dari AS. Adapun total impor LPG Indonesia pada tahun ini sebesar 7,8 juta ton.