Pertamina Siap Sinkronisasi Pasokan BBM dengan SPBU Swasta
ยทwaktu baca 2 menit

PT Pertamina Patra Niaga menanggapi arahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait sinkronisasi pasokan BBM dengan SPBU milik swasta.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan perusahaan akan mematuhi segala kebijakan yang ditetapkan pemerintah, termasuk sinkronisasi pasokan BBM dengan swasta.
"Pertamina dalam hal ini sebagai badan usaha berkomitmen memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, termasuk mengikuti ketentuan yang disampaikan Pemerintah," katanya kepada kumparan, Minggu (7/9).
Saat ini, SPBU swasta di Indonesia seperti Shell dan BP-AKR mengalami keterbatasan pasokan, yang menyebabkan produk bensin (gasoline) tidak tersedia di beberapa SPBU dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.
Untuk Shell, produk yang sulit ditemukan yakni Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+. Sementara BP-AKR yakni BBM BP Ultimate dan BP 92.
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah akan akan menghitung kembali alokasi pasokan BBM untuk SPBU swasta dari kilang milik PT Pertamina (Persero), agar tidak perlu tambahan kuota impor.
Yuliot mengatakan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan mempertemukan Pertamina dengan badan usaha SPBU swasta yang mengalami kekurangan pasokan terkait sinkronisasi tersebut.
"Pak Menteri ESDM sudah menyampaikan bahwa ini disinkronkan, untuk proses impor antara PT Pertamina dengan badan usaha," ungkap Yuliot saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (3/9).
Namun ketika ditanya kembali terkait potensi tambahan kuota impor BBM, Yuliot hanya menjelaskan bahwa pemerintah tetap memperhatikan neraca komoditas.
"Kita sudah mendapatkan data berapa impor dari PT Pertamina, berapa impor dari badan usaha. Jadi kita juga memperhatikan neraca komoditas itu jangan sampai neraca komoditas yang sudah disepakati itu juga ada kelebihan," tegasnya.
Yuliot pun memastikan pasokan BBM dari kilang Pertamina untuk badan usaha swasta akan disesuaikan spesifikasinya sesuai kebutuhan. Misal dari sisi warna maupun zat aditif.
Di sisi lain, dia juga menjelaskan penyebab langkanya BBM di SPBU swasta karena pergeseran permintaan atau shifting dari BBM bersubsidi Pertamina, karena pembelian diperketat menggunakan QR code. Total pergeserannya bisa mencapai 1,4 juta kiloliter (KL).
"Peningkatan itu karena ada shifting juga. Pertamina kan mewajibkan menggunakan QR code, sementara masyarakat karena itu perlu mendaftar, kemudian mereka juga mungkin CC kendaraannya tidak sesuai. Terjadi shifting yang tadinya dari subsidi Pertalite itu menjadi non-subsidi," ungkapnya.
