Pertamina Temukan Potensi Minyak Non-Konvensional 724 Juta Barel di Blok Rokan
·waktu baca 2 menit

PT Pertamina (Persero) menemukan potensi sumber daya minyak non-konvensional (MNK) di Blok Rokan sebesar 724 juta barel minyak ekuivalen (MMBOE).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan penemuan tersebut berkat kerja sama teknologi dengan perusahaan Amerika Serikat (AS), EOG Resources.
"Minyak non-konvensional tentu kita kerja sama dengan kemarin teknologi dari Amerika, nanti untuk memaksimalkan bagaimana cara kita agar supaya bisa meng-ekstrak itu sampai ke permukaan," jelas Simon saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (19/11).
Saat rapat bersama Komisi VI DPR, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan perusahaan berhasil menemukan sumber daya terbesar dalam 10 tahun terakhir.
"Kita berhasil menemukan migas non-konvensional atau MNK di WK Rokan yang potensi temuannya mencapai 724 juta barel," ungkapnya.
Penemuan sumber daya MNK ini meliputi 200,77 MMBOE di area Aman Through K7A dan 523,46 MMBOE di area K7B. Oki menyebutkan, penemuan tersebut hanya awal dari potensi MNK di seluruh Indonesia yang diharapkan jauh lebih besar.
"Itu hanya dari satu struktur dan tentunya potensi non-konvensional di Indonesia jauh lebih besar dari itu," kata Oki.
Sementara itu, Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, mengatakan perusahaan berupaya meningkatkan lifting migas yang mengalami penurunan alamiah (natural decline) sebesar 21-24 persen per tahun.
“Pengembangan lapangan baru, teridentifikasi sudah ada 23 lapangan discovery yang sedang kita upayakan. Sepuluh lapangan dengan PoD kurang dari 2 tahun, dan 13 lapangan dengan PoD lebih dari 2 tahun sudah kita identifikasi dalam 5 tahun ke depan,” ungkap Emma.
Selain eksplorasi, Pertamina juga mengupayakan kenaikan lifting migas dari sisi eksploitasi. Pertama, menargetkan pengeboran 4.000 sumur pengembangan, 4.000 kegiatan workover, dan 156.000 kegiatan well intervention serta well service.
Upaya lain dilakukan melalui intervensi peningkatan produksi dan lifting sumur-sumur tua dengan teknologi enhanced oil recovery (EOR) dan chemical enhanced oil recovery (CEOR), serta pengembangan minyak non-konvensional (MNK).
“Untuk 16 proyek prioritas EOR dan CEOR yang akan on stream hingga 2030, antara lain CEOR Lapangan Minas A dan C, Lapangan Zulu Primary, Lapangan NDD, Lapangan Krisna, dan Lapangan Rama," jelas Emma.
“Kemudian beberapa hak konsesi, ketentuan fiskal, entitas MNK, dan berbagai bentuk kemitraan sedang diupayakan dengan berkolaborasi bersama SKK Migas. Appraisal multi-stages fracturing juga sedang dilakukan untuk peningkatan produksi dan lifting,” tambahnya.
