Pertemuan ASEAN 2026, RI Dorong Penguatan Konektivitas Infrastruktur Energi
ยทwaktu baca 3 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengatakan Indonesia mendorong penguatan konektivitas infrastruktur energi bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina.
Bahlil menilai, pemerataan akses energi, terutama di wilayah terluar Indonesia, masih menjadi tantangan. Masyarakat masih bergantung pada genset dengan biaya operasional tinggi, sementara aktivitas ekonomi dan layanan publik berjalan terbatas akibat pasokan listrik yang belum sepenuhnya andal.
Persoalan tersebut kembali disuarakan Indonesia dalam Special BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area) Leaders' Summit di Filipina, Kamis (7/5).
Mendampingi Presiden Prabowo Subianto, Bahlil menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur energi kawasan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Bahlil, kerja sama subregional tidak hanya berfokus pada konektivitas antarnegara, tetapi juga harus mampu menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan terjangkau hingga ke daerah paling terpencil.
"Pertemuan ini merupakan inisiatif kerja sama ekonomi subregional yang dibentuk pada tahun 1994 untuk mendorong pembangunan di daerah 3T bagi empat negara anggota," kata Bahlil melalui keterangan resmi, dikutip Jumat (8/5).
Bahlil mengatakan, forum BIMP-EAGA merupakan momentum bagi Indonesia untuk memperkuat sinergi pembangunan kelistrikan lintas kawasan, terutama melalui proyek interkoneksi energi, elektrifikasi pedesaan, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Upaya tersebut, kata dia, dinilai penting agar masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terpencil memperoleh akses energi yang lebih baik sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
"Sinergi ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik," ujar Bahlil.
Kementerian ESDM optimis bahwa pondasi kerja sama empat negara akan semakin kokoh untuk bersinergi dalam membangun infrastruktur energi. Sehingga, diharapkan tidak hanya mengamankan rantai pasok masing-masing negara, tetapi juga mengakselerasi Asia Tenggara sebagai poros pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
Sementara itu, Prabowo dalam pidato di KTT tersebut menegaskan bahwa BIMP-EAGA harus terus berkembang agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan secara lebih nyata. Menurut Presiden, kerja sama subkawasan tersebut harus menjadi lebih adaptif, berdampak, dan responsif terhadap dinamika global yang terus berubah.
"Dengan semangat itu, BIMP-EAGA harus terus berkembang. BIMP-EAGA harus lebih adaptif, lebih berdampak, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kita," lanjutnya.
Prabowo menekankan pentingnya memperkuat konektivitas subkawasan, termasuk peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid agar distribusi energi dapat berjalan lebih efisien di kawasan. Dia menilai seluruh agenda tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan, keahlian teknis, serta kemitraan yang lebih erat dengan para mitra pembangunan regional.
"Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan Mitra Pembangunan kita," ujar dia.
