Pertumbuhan Ekonomi Malaysia di Atas Ekspektasi, Ditopang AI-Permintaan Domestik

Pertumbuhan ekonomi Malaysia melambat tetapi masih melampaui ekspektasi karena ledakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus menopang ekspor dan permintaan domestik tetap tangguh.
Dikutip dari Bloomberg, berdasarkan estimasi awal Departemen Statistik Malaysia, produk domestik bruto (PDB) naik 5,3 persen kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut melampaui prediksi median 5,1 persen dalam survei Bloomberg. Namun, pertumbuhan pada kuartal III melambat dari ekspansi 6 persen pada periode tiga bulan sebelumnya.
Pertumbuhan kuartal III ditopang oleh kinerja positif di sebagian besar sektor ekonomi. Hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi.
Angka yang lebih baik dari perkiraan tersebut menegaskan ketahanan ekonomi Malaysia meskipun pertumbuhan melambat dari capaian kuat pada paruh pertama tahun ini. Konsumsi domestik yang kuat dan permintaan terhadap produk elektronik yang digunakan untuk AI membantu meredam dampak gangguan terhadap ekonomi yang bergantung pada perdagangan akibat perang AS melawan Iran.
Berdasarkan grafik yang bersumber dari Departemen Statistik Malaysia, pertumbuhan ekonomi pada 2024 sempat melonjak tajam pada kuartal II 2024 hingga mencapai puncaknya di kisaran 6 persen sebelum perlahan melambat hingga kuartal I 2025 di sekitar angka 4 persen.
Mulai kuartal kedua 2025, perekonomian Malaysia kembali menunjukkan pemulihan yang signifikan hingga melampaui 6 persen pada kuartal IV 2025. Masuk ke tahun 2026, tingkat pertumbuhan tetap relatif kuat meskipun mengalami beberapa fluktuasi, dengan kuartal II 2026 kembali menyentuh kisaran 6 persen sebelum akhirnya melambat (moderates) pada kuartal III 2026 yang masih bersifat awal (preliminary), di angka sekitar 5 persen.
“Hasil ini secara umum sejalan dengan perkiraan kami dan menunjukkan momentum pertumbuhan masih kuat, meskipun melambat dari pertumbuhan yang kuat pada paruh pertama 2026,” kata ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp, Lavanya Venkateswaran, dikutip, Sabtu (17/10).
“Hal ini membuka peluang bagi Bank Negara Malaysia untuk menormalisasi suku bunga kebijakannya sebesar 25 basis poin. Perkiraan dasar kami untuk penyesuaian tersebut adalah pada Januari, tetapi keputusan untuk pertemuan November akan sangat ketat,” tambahnya.
Ringgit stabil di level 4,08 per dolar AS setelah data PDB dirilis, sementara saham-saham lokal masih berada di zona penurunan.
Sektor jasa tumbuh 5,4 persen, ditopang oleh perdagangan grosir dan eceran, informasi dan komunikasi, serta keuangan. Sektor manufaktur menguat 7,5 persen, didukung sebagian oleh industri yang berorientasi ekspor, khususnya produk listrik dan elektronik.
Gubernur Bank Negara Malaysia Abdul Rasheed Ghaffour mengatakan, ekonomi kemungkinan tumbuh sekitar 5 persen tahun ini, dengan sumber pertumbuhan Malaysia yang beragam membantu meredam dampak perlambatan apa pun dalam ledakan AI.
Departemen Statistik Malaysia melihat ekonomi Malaysia tumbuh 5,5 persen selama tiga kuartal pertama 2026, di atas proyeksi pertumbuhan pemerintah yang telah direvisi sebesar 4,8-5,3 persen untuk tahun ini. Pemerintah pada bulan ini menaikkan proyeksi tersebut dari sebelumnya 4-5 persen.
Belanja rumah tangga tetap kuat karena subsidi bahan bakar membantu melindungi konsumen dari tingginya biaya energi. Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada awal bulan ini juga mengumumkan tambahan bantuan tunai dan kenaikan upah minimum untuk tahun depan guna mengurangi tekanan biaya hidup.
Pemerintah memperkirakan ekonomi Malaysia tumbuh 4,2-5,2 persen pada 2027, didukung oleh permintaan domestik yang berkelanjutan dan aktivitas investasi. Data PDB awal, yang akan memberikan analisis terperinci mengenai kuartal III, akan dirilis pada 18 November.
