Kumparan Logo

Perusahaan Afiliasi UGM, Swayasa Prakarsa, Siap IPO & Bidik Dana Rp 45,22 Miliar

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi IHSG. Foto: Devara Udayana/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi IHSG. Foto: Devara Udayana/Shutterstock

PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur produk kesehatan berbasis riset dan memiliki afiliasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO).

Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru atau setara 30,30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Swayasa Prakarsa menawarkan saham dalam rentang harga Rp 130-Rp 140 per saham. Dengan jumlah saham yang ditawarkan maksimal 323 juta saham, nilai IPO yang dapat dihimpun perseroan mencapai Rp 45,22 miliar.

Perseroan telah memperoleh persetujuan prinsip pencatatan efek dari BEI melalui surat No. S-10749/BEI.PP2/08-2026 tertanggal 13 Agustus 2026. Jika seluruh saham ditawarkan dan dicatatkan, total saham Swayasa Prakarsa yang tercatat di BEI mencapai 1,066 miliar saham.

Dalam keterbukaan informasi, masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung pada 24-27 Agustus 2026. Selanjutnya, tanggal efektif dijadwalkan pada 31 Agustus 2026.

Masa penawaran umum perdana saham berlangsung pada 2-8 September 2026, dengan tanggal penjatahan 8 September, distribusi saham 9 September, dan pencatatan saham di BEI pada 10 September 2026.

UGM Masih Jadi Pemegang Saham

Ilustrasi kampus UGM. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock

Keterkaitan Swayasa Prakarsa dengan UGM terlihat dari struktur kepemilikannya. Sebelum IPO, PT Gama Multi Usaha Mandiri menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 97,16 persen. Sementara, UGM secara langsung memiliki 20,009 juta saham atau 2,693 persen.

Selain itu, PT Radio Swara Gadjah Mada memiliki 0,074 persen saham dan Bondan Ardiningtyas sebesar 0,073 persen.

Setelah IPO, kepemilikan PT Gama Multi Usaha Mandiri akan terdilusi menjadi 67,72 persen, sedangkan kepemilikan langsung UGM menjadi 1,88 persen. Masyarakat akan memiliki 30,30 persen saham hasil penawaran umum.

Dalam prospektus, Swayasa Prakarsa didirikan pada 12 Januari 2012 sebagai motor komersialisasi hasil riset UGM. Perseroan kemudian mengembangkan sejumlah unit usaha, mulai dari Gama Herbal Indonesia, Heprogama, Gamafood, hingga unit distribusi IMEDEV. Produk pertamanya, Gama-CHA, diluncurkan pada Agustus 2014.

UGM juga masih mempertahankan kendalinya setelah IPO. Berdasarkan surat pernyataan pengendali pada 12 Agustus 2026, UGM yang diwakili Rektor Prof. dr. Ova Emilia menyatakan takkan melepaskan pengendalian atas perseroan selama 12 bulan sejak efektifnya pernyataan pendaftaran IPO.

Dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi bakal digunakan untuk sejumlah kebutuhan pengembangan bisnis. Sekitar Rp 15,8 miliar akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.

Sementara itu, sekitar Rp 12,2 miliar bakal dipakai untuk belanja modal. Penggunaan modal kerja diarahkan untuk mendukung pengembangan produk kesehatan berbasis riset. Perseroan antara lain menyiapkan pengembangan produk External Ventricular Drain (EVD) serta ventilator neonatal.

Untuk produk EVD, pengembangan mencakup pembelian mould injection, bahan baku dan bahan kemasan, produksi dan sterilisasi, berbagai pengujian hingga penyusunan dokumen perizinan dan sertifikasi produk.

Adapun untuk ventilator neonatal, perseroan akan menggunakan dana untuk pembelian bahan baku, produksi, pengujian fisik hingga klinis, serta penyusunan dokumen perizinan dan sertifikasi.

instagram embed