Kumparan Logo

Perusahaan China Mau Relokasi ke RI, Kawasan Subang Smartpolitan Banyak Dilirik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proyek pembangunan Kawasan Subang Smartpolitan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Proyek pembangunan Kawasan Subang Smartpolitan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/Antara Foto

Sejumlah perusahaan asal China dilaporkan tertarik memperluas bisnis dan membangun pabrik di Indonesia, terdorong oleh tingginya tarif yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap China.

Pendiri perusahaan konsultasi lahan industri di Jakarta, Gao Xiaoyu, menerima banyak permintaan dari perusahaan China terkait rencana tersebut, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/8).

Indonesia menerapkan tarif relatif rendah sebesar 19 persen, setara dengan beberapa negara ASEAN lain seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand. Angka ini juga lebih rendah dibanding Vietnam yang 20 persen dan jauh di bawah China yang sudah melampaui 30 persen.

Pada gelombang awal ekspansi, perusahaan-perusahaan China lebih banyak memilih Vietnam dan Thailand. Namun kini, Indonesia dan negara tetangga lain mulai menjadi tujuan di tengah memanasnya hubungan dagang dengan AS.

Walau tarif 19 persen juga berlaku di negara ASEAN lain, Indonesia dinilai unggul berkat pasar konsumennya yang sangat besar. Negara ini merupakan salah satu ekonomi terbesar di ASEAN dan berpenduduk terbesar keempat di dunia.

Pabrik terbesar Tesla di China. Foto: Tesla

“Kalau bisa membangun bisnis kuat di Indonesia, itu sama saja seperti menguasai setengah pasar Asia Tenggara,” ujar Zhang Chao, pengusaha asal China yang menjual lampu motor di Indonesia.

Country Head Bank of America Indonesia, Mira Arifin, menilai minat tinggi dari perusahaan China berpotensi menciptakan sinergi karena Indonesia memiliki banyak talenta muda, sehingga investor asing dapat mengembangkan bisnis dengan cepat.

Pada semester I 2025, nilai investasi dari China dan Hong Kong ke Indonesia meningkat 6,5 persen menjadi USD 8,2 miliar, sementara total investasi asing langsung (FDI) naik 2,58 persen menjadi USD 26,56 miliar.

Di kawasan industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat, yang memiliki luas lebih dari 2.700 hektare, minat investor China melonjak tajam setelah kesepakatan dagang AS-Indonesia diumumkan bulan lalu.

“Telepon, email, sampai WeChat langsung ramai. Banyak agen yang ingin mengenalkan klien, semuanya dari China,” ungkap Abednego Purnomo, vice-president for sales, marketing and tenant relations Suryacipta Swadaya, pengelola Subang Smartpolitan.

Perusahaan-perusahaan asal China tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari produsen mainan, tekstil, hingga kendaraan listrik. Sebagian besar membidik Jawa Barat yang menjadi provinsi terpadat di Indonesia dan memiliki akses ke Pelabuhan Laut Dalam Patimban.

Meningkatnya permintaan dari investor China ini juga mendorong kenaikan harga lahan industri dan gudang di Indonesia sebesar 15-25 persen secara tahunan pada kuartal I 2025—kenaikan tercepat dalam 20 tahun terakhir.

Kepala Layanan Industri dan Logistik Colliers Indonesia, Rivan Munansa, mengatakan perusahaan China bergerak cepat sebelum kesepakatan tarif berlaku penuh. “Mereka mencari lahan dan bangunan sementara yang bisa langsung dipakai, seperti program kilat,” ujarnya.

instagram embed

Zhang bahkan menyewa gedung perkantoran empat lantai di Jakarta pada Mei dengan harga sewa tahunan 100.000 yuan, naik 43 persen dibanding tahun lalu.

“Tarif 19 persen lebih rendah dari perkiraan saya yang 30 persen. Di China, margin laba bersih bisa cuma 3 persen, tapi di Indonesia relatif mudah mencapai 20 sampai 30 persen,” kata Zhang.

Kendati peluang investasi terbuka lebar, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari regulasi yang kompleks, birokrasi, pembatasan kepemilikan asing, infrastruktur yang belum merata, hingga rantai pasok industri yang belum sepenuhnya terbangun.