Perusahaan Game Idol Jepang Bangkrut, Biaya Pengembangan yang Tinggi Jadi Sebab

Sebuah perusahaan Jepang yang dikenal karena aplikasi game bertema idola remaja virtual mengajukan permohonan bangkrut. Ini merupakan kasus terbaru dalam gelombang kegagalan perusahaan yang mencapai angka tertinggi dalam 12 terakhir, seiring dampak inflasi dan kekurangan tenaga kerja yang menghantam perusahaan dengan kondisi keuangan yang lemah.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (18/8), firma hukum linuma & Partners mengatakan ODD No. Inc. yang berbasis di Tokyo memulai proses kebangkrutan pada bulan ini. Menurut Tokyo Shoko Research Ltd., perusahaan yang dikenal dengan aplikasi game animasi interaktif *Link! Like! Lovelive!* ini memiliki kewajiban utang sebesar 10,7 miliar yen (setara Rp 1,19 T). Ini merupakan kebangkrutan terbesar di Jepang sepanjang tahun ini dari segi nilai utang.
Perusahaan itu berhasil menarik jumlah pengguna untuk aplikasi buatannya, tapi Tokyo Shoko dalam laporannya tertanggal 13 Agustus mengatakan tingginya biaya pengembangan menghalangi perusahaan untuk meraih keuntungan. Perwakilan perusahaan tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.
Di tengah pencapaian rekor tertinggi indeks saham Jepang yang didorong oleh lonjakan laba perusahaan, angka perusahaan yang bangkrut juga meningkat, utamanya di kalangan perusahaan berskala kecil. Hal ini diakibatkan oleh faktor-faktor seperti kenaikan biaya bahan baku karena inflasi dan kekurangan tenaga kerja yang dipicu oleh penurunan populasi. Kegagalan perusahaan pada semester pertama tahun ini naik 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 5.346, kasus terbanyak sejak 2013.
Sebagian besar kegagalan terjadi pada perusahaan yang memiliki kewajiban utang kurang dari 100 juta yen, yang mencakup sekitar 77 persen dari total kasus pada semester pertamma. Perusahaan penyedia layanan informasi seperti ODD No. mencatat peningkatan kebangkrutan yang sangat tajam, yaitu naik 18,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 166 kasus. Ini dipengaruhi oleh skala perusahaan yang umumnya kecil dan persaingan yang semakin ketat di industri yang berubah dengan cepat akibat pesatnya pengaruh AI.
Runtuhnya Zentoshin Co., perusahaan pembayaran kartu kredit yang berbasis di Osaka, pada bulan lalu telah menimbulkan guncangan bagi bank-bank daerah maupun restoran yang bergantung pada layanannya.
"Kami memperkirakan angka kebangkrutan akan tetap tinggi," kata peneliti Tokyo Shoko Research, Hiroki Sakurai.
